Untuk Caleg-caleg, petinggi-petinggi partai, DPR-MPR...pejabat negara kita
Dan juga untuk dia yang satu itu...yang selalu ku cinta dimanapun ku berada
"Caleg demi caleg menggila
Intimidasi dan Kolusi di mana-mana
Demi kontrol kekuasaan di kursi atas negara...."
"Cinta membubung tinggi
Hasrat yang membuatku berani berlari
Mengejar dirimu terus, kasih..."
"Norma demi norma terusak sudah
Konflik opini makin menggila telah
Tatanan kota kini sudah tak tertata
Semua semakin gila, oh tanahku Indonesia..."
"Kau tak pernah menjawab daku, sayangku
Padahal di hati ini hanya bisa menyayangi dirimu
Hanya bisa mendo'akanmu, mengawasimu
Memastikanmu tetap dalam naungan bahagia tanpa sedih sedu
Oh, cinta...sedih daku melihat itu"
"Semua ingin demokrasi, tapi hanya para wakil rakyat yang punya
Hak-hak menggugat ini itu-nya negara
Sementara suara kita
Hanya bagaikan bisik-bisik tiada guna bagi mereka
Padahal telah kita suarakan
Telah kita TERIAKKAN
Bahwa negeri ini dibawa keambang KEHANCURAN"
"Yayangku, kau tetap saja membisu
Berlari keluar dari bayangku
Yang selalu ingin dekatmu
Aku coba tuk berontak
Hanya tuk menjadi DEKAT DENGANMU
Tapi kau hanya diam pilu...
Aku rasa nyawaku seperti DIRENGGUT
Rasanya tiada lagi yang menyenangkan hati atau mengenyangkan perut..."
"Transportasi sudah tak ada KETERTIBAN
Produktivitas panen selalu dalam KEGAGALAN
Sedikit saja kata sembarang memulai kegilaan KERIBUTAN
Sementara pemimpin kita tidak MEMPERDULIKAN
Hanya berusaha untuk mengamankan KURSI KEBESARAN
Dari pesaing haus KEKUASAAN
Yang lain...
MANA SIMPATIMU PADA NEGERIMU SENDIRI
INDONESIA INI?
WAHAI KAU PARA PETINGGI NEGERI!
JAWAB PERTANYAANKU TADI!"
"Hidup rasanya sudah tiada NYAMAN
Nafaspun sesak berat seperti sudah SEKARAT
Padahal hati ini tak bisa alihkan PERHATIAN
Dari DIRIMU
INIKAH BALASANMU
PADA CINTAKU YANG TULUS ITU?
WAHAI KAU CINTAKU YAYANGKU!
JAWAB PERTANYAANKU ITU!"
"MENGERTILAH
O PEMIMPIN INDONESIA
MENGERTILAH RAKYAT-RAKYATMU INI
YANG MENJADI PERTANGGUNGJAWABANMU HINGGA NANTI
JANGAN KAU PEDULIKAN DIRI DAN JABATANMU SAJA
HINGGA MENINGGALKAN KAMI DALAM KEADAAN GILA
MENGERTILAH!
BILA MEMANG KAU PEMIMPIN SEJATI"
"MENGERTILAH
OH YAYANGKU YANG KU CINTA SELALU
MENGERTILAH ORANG YANG MENCINTAMU
YANG MENDO'AKANMU YANG MEMIKIRKANMU
TIAP HARI TIAP SAAT TIAP WAKTU
YANG MENGHARAPKANMU MENJADI LEBIH BAIK DARI WAKTU KE WAKTU
JANGANLAH KAU HANYA PEDULIKAN RASAMU
TANPA PEDULIKAN RASAKU
MENGERTILAH!
KARENA KU MEMBUTUHKANMU, CINTA
UNTUK HIDUP DI DUNIA INI DENGAN BAHAGIA..."
Mikhayllya Arkandijnedzovski / Namen RUS verzie
Arkhandijnezew Iljanezustivikchnarawszt/ Namen POL verzie
Mikhailja Arkandzovic/ Namen SRB verzie
M.Arkan
Jakarta
12 Maret 2009
9.00-9.15
Between the corners of an archipelago and the end of seas - this is a core of a heart of someone dancing, traveling, creating music, and writing; to make a destiny out of dreams
Showing posts with label Poeisi. Show all posts
Showing posts with label Poeisi. Show all posts
Monday, March 16, 2009
Friday, December 5, 2008
Puisi - Kepada: Mereka yang menganggap-ku freak
Adakah diriku adalah makhluk aneh tersendiri?
Terbuang dari yang kaumnya sendiri?
Adakah diriku sendiri di Dunia ini?
Mengais merang-rang dan ditindas kalian ini?
Apa alasanku untuk menjalani semua itu?
Menjalani semua siksaanku itu?
Apa yang membuatku bekerja salah di semua lini
Apa yang membuatku sering berbuat aneh di hadapan kalian ini?
Yang membuatku seperti ini...
Ialah kepercayaanku dalam hidup warna-warni ini
Dalam panutanku
Bukanlah jalan ke neraka seperti yang kalian tuntuti
Yang ku telusuri
Memang benar penuh rasa senang dan hasrat yang terpenuhi
Tapi itu jalan setan yang sesat tiada henti
Bukan pula ku tempuhi
Jalan para Sufi dari negeri Khawarizmi
Yang beberapa dari kalian ikuti
Yang menuntut kesederhanaan dan ketulusan pada Dia yang berkuasa....
Jalanku bukan keduanya...
Tapi jalan diantara keduanya
Jalan diantara kebaikan dan kejahatan
Jalan diantara kesenangan hayati dan akhirat
Dan jalan ini menuntut satu -
Perdirian teguh hati untuk tidak terbawa angin puyuh
Yang disebut bisikan-bisikan topeng kelabu
Jalan ini menuntut satu -
Kemampuan untuk berjalan terus
Untuk mengambil hikmah terus
Untuk mengembara terus
Memang betul itu berarti kita tidak pernah menentu
Kita terus menyesesuaikan diri dengan hawa
Yang membuat gigi kita ngilu
Dan itulah Jalanku!
Ditulis sebagai tanda berontak
Kepada mereka yang menganggap diriku
Aneh dan rendah!
Dan sebagai tanda
Penguat tentang apa yang ada
Didalam filosofi diri ini!
-ArkanDzovskI
Džakarta, 5 Desembre 2008-
Terbuang dari yang kaumnya sendiri?
Adakah diriku sendiri di Dunia ini?
Mengais merang-rang dan ditindas kalian ini?
Apa alasanku untuk menjalani semua itu?
Menjalani semua siksaanku itu?
Apa yang membuatku bekerja salah di semua lini
Apa yang membuatku sering berbuat aneh di hadapan kalian ini?
Yang membuatku seperti ini...
Ialah kepercayaanku dalam hidup warna-warni ini
Dalam panutanku
Bukanlah jalan ke neraka seperti yang kalian tuntuti
Yang ku telusuri
Memang benar penuh rasa senang dan hasrat yang terpenuhi
Tapi itu jalan setan yang sesat tiada henti
Bukan pula ku tempuhi
Jalan para Sufi dari negeri Khawarizmi
Yang beberapa dari kalian ikuti
Yang menuntut kesederhanaan dan ketulusan pada Dia yang berkuasa....
Jalanku bukan keduanya...
Tapi jalan diantara keduanya
Jalan diantara kebaikan dan kejahatan
Jalan diantara kesenangan hayati dan akhirat
Dan jalan ini menuntut satu -
Perdirian teguh hati untuk tidak terbawa angin puyuh
Yang disebut bisikan-bisikan topeng kelabu
Jalan ini menuntut satu -
Kemampuan untuk berjalan terus
Untuk mengambil hikmah terus
Untuk mengembara terus
Memang betul itu berarti kita tidak pernah menentu
Kita terus menyesesuaikan diri dengan hawa
Yang membuat gigi kita ngilu
Dan itulah Jalanku!
Ditulis sebagai tanda berontak
Kepada mereka yang menganggap diriku
Aneh dan rendah!
Dan sebagai tanda
Penguat tentang apa yang ada
Didalam filosofi diri ini!
-ArkanDzovskI
Džakarta, 5 Desembre 2008-
Friday, November 28, 2008
Poeisi - Untuk Siapakah yang satu ini?
Tanganku ingin memencet tombol TV itu
Namun refleks-ku melawan
Hatiku bertarung - semuanya menjadi campur aduk
Namun hasratku untuk kembali ke meja kerjaku
Memenangi peperangan itu, kawan
Aku mengetik lagi satu puisi
Satu pekerjaan yang aku dari dulu tak bisa hindari
Hasratnya
Satu pekerjaan yang aku dari dulu tak bisa hindari
Membuatku kecanduan terhadapnya
'Sebelum turun hujan deras
Tepat di Manggarai hari ini....
Saat awan menutup perkiraan waras
bahwa angin akan menghilangkan awan-awan ini...
Ku lihat di ujung sana
Di ujung-ujung awan mendung itu
Kulihat rona kuning indah -
Matahari menyinari area itu...
Seakan-akan ia adalah lampu
Yang akan menuntun kita keluar dari awan mendung ini
Itu hanya satu tanda
Bahwa selalu ada harapan
Di setiap kesusahan
Dan diantara semua kesusahan
Selalu ada jalan keluar - jalan keberhasilan....'
Aku berhenti mengetik - aku merenung sendiri
Untuk siapakah puisi ini kuketik?
Untuk dirikukah? Untuk kekasih hati?
Untuk ayahanda kah? Untuk ibunda guruku kah?
Atau untuk semua orang putus asa di Indonesia?
Untuk siapakah yang satu ini?
Puisi ini bukan untuk satu orang saja
Bukan untuk satu kaum spesifik
Bukan untuk satu negara saja
Bukan untuk satu organisasi
Tapi untuk semua orang di dunia ini
Karena setiap puisi itu...
Berarti
Dan Abadi
Dihati setiap mereka yang membaca karya itu
Namun refleks-ku melawan
Hatiku bertarung - semuanya menjadi campur aduk
Namun hasratku untuk kembali ke meja kerjaku
Memenangi peperangan itu, kawan
Aku mengetik lagi satu puisi
Satu pekerjaan yang aku dari dulu tak bisa hindari
Hasratnya
Satu pekerjaan yang aku dari dulu tak bisa hindari
Membuatku kecanduan terhadapnya
'Sebelum turun hujan deras
Tepat di Manggarai hari ini....
Saat awan menutup perkiraan waras
bahwa angin akan menghilangkan awan-awan ini...
Ku lihat di ujung sana
Di ujung-ujung awan mendung itu
Kulihat rona kuning indah -
Matahari menyinari area itu...
Seakan-akan ia adalah lampu
Yang akan menuntun kita keluar dari awan mendung ini
Itu hanya satu tanda
Bahwa selalu ada harapan
Di setiap kesusahan
Dan diantara semua kesusahan
Selalu ada jalan keluar - jalan keberhasilan....'
Aku berhenti mengetik - aku merenung sendiri
Untuk siapakah puisi ini kuketik?
Untuk dirikukah? Untuk kekasih hati?
Untuk ayahanda kah? Untuk ibunda guruku kah?
Atau untuk semua orang putus asa di Indonesia?
Untuk siapakah yang satu ini?
Puisi ini bukan untuk satu orang saja
Bukan untuk satu kaum spesifik
Bukan untuk satu negara saja
Bukan untuk satu organisasi
Tapi untuk semua orang di dunia ini
Karena setiap puisi itu...
Berarti
Dan Abadi
Dihati setiap mereka yang membaca karya itu
Subscribe to:
Posts (Atom)