Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Wednesday, March 31, 2010

Kenangan Sepak Bola Di Jalan Jambu

Berbicara tentang sepakbola daerah, aku teringat soal kenangan dahulu kala (yah, sebenarnya tidak terlalu lama juga sih, aku sekarang kelas 8 - kenangan ini ketika aku kelas 4-6, jadi 2-4 tahun yang lalu).
Saat itu aku adalah murid pindahan baru, di PEIS - Pakistan Embassy International School (sekolah Internasional punya kedutaan Pakistan), waktu itu bertempat di Jl. Jambu, Gondangdia, Menteng. Sekarang kabar terakhir sekolah ini sudah pindah tempat ke Sunter, berubah nama menjadi AIMS - Alama Iqbal Memorial School (Berusaha meniru sukses Gandhi Memorial School).
Ada apa sodara-sodara? Sepakbola kala di PEIS di Jl. Jambu sangatlah…berbeda, dari sekolah yang lainnya - mungkin saja, kami bisa dikategorikan jauh ketinggalan fasilitas bahkan dibandingkan dengan level SD Negeri khas Jakarta. Well, supaya tidak jauh penasaran - saya mulai saja ceritanya yak.
Awalnya aku adalah murid baru saat kelas 4, pindahan dari SDI Al-Falah yang berada di Kelapa Dua Wetan, Cibubur (kenapa jauh-jauh sekolahnya? Padahal rumahnya di Pejaten). Faktor pemindahanku lumayan banyak - mulai dari distance alias jarak dari rumah, lalu uang sekolah yang makin lama makin mahal (angka figur 7 digit rupiah / bulan, dan terus naik!), dan juga sistem full-day school dimana aku akan menghabiskan waktu di rumah kemungkinan hanya untuk makan dan minum; bayangkan, pulang jam 4 lebih. Dan dengan kemacetan Tol Cibubur sampai ke Ps. Minggu? Dan belum lagi kemacetan sore Ps. Minggu sampai Pejaten? Wah, keok aku lama-lama bisa, tapi sudah cukup terbiasa sih.
Suasana PEIS jauhlah berbeda dengan atmosfir yang ditampakkan oleh Sekolah Internasional pada umumnya - tempat PEIS di Jl. Jambu tak jauh berbeda dengan sebuah villa, dan ya, betul, itu karena memang gedungnya dulunya adalah guesthouse punya Kedutaan AS.
Lalu lapangan untuk bermain bolanya, kalau kata orang luar - ini bukan lapangan. Dan memang aslinya bukan lapangan; aslinya adalah tempat drop para supir jika sedang hujan; dimana dari situ kami (aku dan teman-teman) bisa langsung masuk ke kelas tanpa kehujanan.
Ya, lapangan itu tak lebih sekitar 10-20 m saja, dengan lebar paling besar 15 m, itupun agak zigzag karena ada titik-titik yang ‘terhalang’ oleh rimbun dedaunan, pos satpam depan, dan semacamnya. Seperti halnya tempat drop yang merupakan jalanan, ‘lapangan’ kami ini adalah jalanan pula; batu - conblock. Bayangkan saja kami bermain disana. Apakah lapangan terlalu kecil - jika kami bermain bersama seluruhnya maka, ya, sangat kecil dan akan sempit dan rusuh - tetapi tidak jika hanya digunakan 1-2 kelas (maklum, satu kelas di PEIS saat itu hanya sekitar 10-20 orang saja).
Lalu bagaimana kami bermain? Kami bermain seperti biasa, main saja - untuk batas gol, kami gunakan sepatu atau kursi bekas dari gudang untuk sisi jauh, dan untuk sisi dekat, sudah dibatasi oleh ‘jendolan’ di dinding, sehingga kami bermain saja terus. Kami bermain layaknya anak-anak lain. Tidak dibatasi oleh kewarganegaraan kami yang berbeda-beda; kelasku saja terdiri dari anak-anak dari Indonesia (tentu), Pakistan (pasti), India, Afghanistan, Azerbaijan, Bosnia, Arab, Iran, Vietnam, Myanmar, Korea dan Yaman - sepakbola dan lapangan depan itu menjadi ‘melting pot’ batas-batas sosial kami; disitulah, dengan bermain bola bersama kami belajar mengerti satu sama lain - menjadi suatu tempat sosialisasi; dari sepakbola lah, saya mulai tahu beberapa kata dari bahasa masing-masing, dan mereka perlahan-lahan tahu Bahasa Indonesia pula; sebuah bukti konkrit betapa sepakbola bisa menembus batasan budaya dan dengan sendirinya menjadi medium untuk sosialisasi. Meski terkadang ada perbedaan antara peraturan dan pandangan/POV (Point-of-view) yang membuat kami sedikit berantem, tapi tetap tidak dibawa keluar lapangan; masalah lapangan tetap di lapangan. Dan kami selesaikan dengan membuktikan siapa jawaranya.
Soal fasilitas individu, seperti bola, kaos, atau bahkan sarung tangan - jangan diremehkan, namanya juga anak-anak dari Dubes dan kawan-kawan pasti sudah memiliki; untuk itu kami membawa masing-masing, kadang kami saling bertukar minjam-meminjam. Jika yang satu memiliki sarung tangan, kadang ditukar dengan pelindung lutut, dan semacamnya.
Meskipun dalam keterbatasan lahan, kami tetap bermain dan tetap berprestasi - dalam keterbatasan ini kami memiliki determinasi kuat untuk menunjukkan ke sekolah lain kalau kami tidak kalah dari mereka; oleh karena itu, ‘para dewa’ kami yang terpilih, akan dilatih. Oleh siapa? Waktu itu kami tidak mempunyai guru olahraga formal - lalu siapa guru olahraga kami? Tidak lain tidak bukan adalah seorang pramubakti/OB yang luar biasa, muda dan bersemangat, namanya mas Yogi. Ucapan populernya yang paling saya ingat adalah ketika ada anak yang makan roti, dia pasti selalu mendekat dan berbicara “Bagi roti.” Kasihan.
Yogi ini adalah seorang motivator ulung; perjalanannya sendiri hingga akhirnya terdampar sebagai seorang OB pun tragis - berumah di Parung, dia berangkat pagi-pagi sekali, malah kadang tidak pulang ke anaknya agar tetap berada di Jakarta. Dulu dia pemain yang bagus; masuk Persija U-17, tapi dibuang karena banyaknya kisah tragis mengenai praktik ‘Suap Bakat’ - dia tidak memiliki uang dan harus keluar. sayang sekali, mas Yogi. Dia, lulusan SMA, tidak tahu mau kemana, akhirnya mengabdi disini menjadi seorang…OB.
Tapi semangatnya tidak padam, ketika ‘para dewa’ sepakbola kami memutuskan untuk ‘go global’ alias menjajal kompetisi sepakbola disekolah lain, Yogi pun diangkat menjadi Coach mereka - seringkali mereka berhasil. Yogi pun mendapatkan bonus pula untuk bagiannya, tatkala itu ia tidak meminta roti untuk 2 minggu. Aku bertanya, dia jawab. “Alhamdulillah, kan, kenyang gue.”. Sayangnya ia tidak dijadikan guru Olahraga, ia tetap menjadi OB. Kasihan, sang unspoken hero; pahlawan yang tidak tertuturkan ceritanya. Kasihan sangat.
Hari demi hari berlalu di PEIS, lapangan lama itu kami tetap gunakan - bulan demi bulan, dibawah tangan Yogi dan para senior, kami berhasil membangun sebuah tim futsal yang kokoh, yang namanya disanjung di antara kami, dan cukup menjadi momok untuk beberapa lawan di beberapa kompetisi futsal di area Jakarta Pusat, Timur, dan Utara. Tapi di area Jakarta Selatan kami masih kalah.
Aku sendiri, memang kurang jago bermain bola. Yah, sejago-jagonya aku, aku hanya pernah membuat gol 8x (tidak termasuk Penalti) selama 8 tahun pembelajaran dari SD sampai SMP ini. Sebagus-bagusnya aku aku selalu ditempatkan sebagai Bek Sayap, Wing Back. Atau sebagai gelandang bertahan, Defensive Midfielder. Orang-orang memang cukup takut ketika akan melewati aku - tackle ku keras, dan aku susah untuk dilewati, bahkan jika orang yang melawanku adalah master dribble.
Lapangan itu tetap tidak berubah, fungsinya juga tidak berubah - dari sinilah betapa aku belajar bahwa sepakbola adalah sebuah bahasa universal yang dapat mempersatukan semua bangsa.
Benar-benar sebuah kenangan sepakbola yang tidak bisa dilupakan dan patut untuk dituturkan. Patut untuk dikenang.
M Arkan, 31032010

Saturday, March 28, 2009

Kopitilam Oey n Nuansa Romans in Menteng

Menteng, Jakarta
28 Maret 2009, Sabtu

Hari dengan curah hujan gerimisan-menengah, hari yang indah untuk tidur, ngelamun, dan mesra-mesraan...hehehe. Kami hari ini akan mencari-cari makanan makan siang yang top kletop nge-pas sama selera - menuju ke arah Menteng kami memutuskan untuk mencoba 'Kopitilam Oey' di salah satu 'blok kios lama', maksudnya daerah jalan-jalan seperti Jl. HOS Cokroaminoto, Jl. KH. Agus Salim, Jl. Sabang & sekitarnya...

Ya, Kopitilam Oey (baca: Kopitilam Wiy), restoran kecil (warkop juga sih) di Jl. KH. Agus Salim di Menteng, yang dikelola oleh sang pengemuka 'Mazhab kuliner' Jalansutera; siapa lagi kalau bukan Bondan Winarno; tentu kami akan ke sana, melihat bagaimana restoran yang didirikan oleh sang pakar Kuliner negeri ini, apakah bisa memperlihatkan kepada kita ke-pakar-an kulinernya. Dan ini juga berhubung karena p'Bondan adalah teman mas (bokap)...

Ternyata kami beruntung sebagai orang-orang pertama yang mengetahui keberadaan Kopitilam Oey ini; karena dalam status 'Soft Opening'nya ia memberikan 50% discount untuk semua minumannya. Entah kenapa tidak pada makanannya - namun nanti kami mengetahui kenapa diskon tersebut hanya untuk minuman saja (bukan karena promosi atau karena biaya membuat makanan mahal...bukan itu, bukan).

Disana, ternyata kami bertemu langsung dengan p'Bondan sendiri, maklumlah restoran baru biasanya diawasi langsung oleh sang pemilik...baru jika mulai lancar maka akan dilepas...Maklum. Ia menyapa kami dengan hangat, kami mengambil tempat duduk...kami menanyakan menu yang nge-top apa kira-kira...ia bilang yang nge-top untuk lunch itu: Gado-gado & Lontong Cap Go Meh Bonbin serta juga gak ketinggalan Sate Ponorogo...Kami pun

memesan rekomendasinya itu. Kami sempat bertanya jawab beberapa pertanyaan, seperti kenapa di dalam menu ada menu breakfast dan tiap-tiap

waktu makan itu makanannya berbeda. Menu breakfast sendiri itu ada karena ternyata Kopitilam Oey itu buka dari jam 7 pagi...n adanya varietas makanan

tersebut ya tentu untuk ke-unikan dan juga karena Kopitilam Oey sendiri memakai konsep Koffie Oey di Nederlaands sana yang sama - mereka hanya

menyediakan minuman, dan sedikiiit makanan. Makanan yang lain 'impor' dari luar kafe (kq 5-an) (tapi kalau di Walundo sana makanannya berjajar di

depan Kedai, sayang pemilik bangunan sekitar tidak mengizinkan sistem itu diberlakukan...alasannya: higienisme aka kebersihan, kalau di Londo sana

tentu bisa tertib n bersih, tapi di negeri ini...o...harapan sangat kecil. Dan selain itu tentu akan mengganggu parkiran, itu sangat tidak diizinkan n juga tidak

diharapkan).

Minuman kami bertiga beragam, aku dan mas memilih Ijs Teh Mint sementara ibu memilih Wedang Uluk Wonosari...sambil menunggu pesanan kami

melihat interior kedai tersebut yang antik, dihiasi oleh poster-poster tentang kopi, teh, sandwich, dari luar negeri zaman tahun 40an s/d 70an dan

poster-poster jajanan melayu tempo doeloe dan poster2 kopi/teh/kedai Belanda. Antik benar interiornya, begitu pula perabotannya yang khas mirip kursi

kedai yang agak pecinan, benar-benar mengembangkan nuansa tempo doeloe yang kental, mantab pokokne rek...

Tak lama kemudian, pesanan datang, antik benar...Lontong Cap Go Meh yang sangat mirip Kupat Tahu betawi, lalu disertai Gado-Gado dan Sate

Ponorogo, sangat khas...p' Bondan memberi penjelasan; katanya Lontong Cap Go Meh perbedaannya memang sedikit dengan kupat Tahu, bumbunya lebih Chinese dan ia ada opornya, sementara Gado-Gadonya benar-benar terbuat dari kacang tanah yang baunya khas, ditambah gula aren yang pol dan disertai sambal terasi di bagian pojok piring untuk mereka yang ingin mendapatkan sensasi pedas...sementara Sate Ponorogo ternyata mirip sekali sate padang, tapi kacang tanah untuk sausnya ternyata dibuat sangat spesial; bagian putih-putih di tengahnya di keluarkan untuk mengeluarkan rasa pahit dari kacang. Sangat spesial ternyata...ia juga bilang, mencari Sate Ponorogo itu sendiri sangat susah, hingga akhirnya ketemu satu di Cibubur dan ia bawa ke kedainya itu, jadi memang specially made Sate tersebut itu. Gado-Gado n Lontong CGM nya sendiri dari Gado2 n Lontong Bonbin yg terkenal t jauh dari situ(masih di daerah Menteng).

Ketika kita cicipi...muantapne terasa banget!!!! Saus kacang Gado-Gado tersebut manis dan ketika dicampur dengan sambel terasinya benar-benar terasa kenikmatan gado-gado sempurna! Parfait! Lontong Cap Go Mehnya tidak jauh beda rasanya dengan Kupat Tahu Betawi, tapi tetap saja pas.

Sementara menurutku d special food goes to...Sate Ponorogo! Waw, ayamnya sangat halus...kata p'Bondan itu rahasia para pembuatnya, dan saus kacangnya mirip saus Sate Padang tapi lebih lembut, tidak terlalu asin, tapi justru manis seperti saus kacang Sate seperti biasanya, waw! ditambah Lontong...Tapi sepertinya kami kebanyakan Lontong, Lontong CGM pake Lontong, Gado2 juga, Sate Ponorogo juga...mati aku iki, Gusti!

Tapi tenang saja, itu bukan masalah besar, setelah perut kami kenyang makan, minumannya pun hebat...Ijs Teh Mintnya bener2 terasa mint, kayak odol...beda dengan teh mint di tempat lain yang sekedar...seger kayak mint aja...tapi ini benar-benar layaknya mint betulan, terasa odol...dilain pihak, rasa semeriwing-semeriwing pedas segar dingin dari teh mint itu diimbangi oleh Wedang Uluk. Wedang Uluk memang bukan minuman biasa, Uluk, secara harfiah dalam bahasa Jawa, berarti sampah - seperti halnya teh ini, yang diseduh rangkaian 'sampah' herbal seperti sirih, jahe dsb. Tapi manfaat, khasiat, dan rasanya tidak seperti 'uluk' - justru sangat enak. Hangat, layaknya Wedang Jahe. Mantap.

Setelah semuanya selesai, kami bayar... total 90,000 (termasuk PPN 15%), makanannya 60,000 minuman 20,000 tapi minuman seharusnya 40,000 karena ini sudah dipotong diskon. Murah juga, kalau kondisi normal, ya berarti kira-kira Rp.40,000-an per orang. Value-for-money nya lebih dari memuaskan.

Kamipun keluar sambil pamit kepada p'Bondan...diluar kami merasakan hujan rintik-rintik di daerah Menteng dan kemudian kembali ke rumah (jalan pelan-pelan), aku pun merasakan nuansa-nuansa masa laluku hadir kembali...kala-kala aku bercakap-cakap dengan sayangku itu, di bawah atap sekolah, dalam hujan rintik-rintik seperti ini...jam 2 juga...ah...betapa indahnya. Aku juga merasakan kembali ingatan masa kecilku (dulu sebelum di Pejaten aku di Saharjo rumahnya, jadi Menteng itu daerah mainanku juga). Betul-betul saat itu aku merasakan nuansa nostalgia, fikiranku kembali ke masa-masa indah romansa ku dan dia itu...ah...cinta...kala engkau bersiul rasanya nikmat sekali, namun kala kau merajam rajamanmu menembus dada...cinta...cinta...ah, Cinta! sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari hidup seorang M. Arkan...selain idealisme dan makanan.

Saturday, November 1, 2008

Jurnale harian 310kt08

31okt08, DŽAKARTA - DJAKARTA


Akhhh....Jum'at....seperti biasa, hari ini hari laripagi, ok, no problem.... Semuanya tak masalah. Tapi hari ini ibu yang nyetir...aku agak khawatir, soalnya dia ngemudiin mobil tuh lambat (banget) biasanya.. Akupun berangkat jam 5.10, aku deg-degan soalnya sampai sekolah jam 5.45. Aku katakan pada ibuku "Bu, Believe in urself ya....". Ternyata kalimat motivatif itu berhasil - ibu ternyata ngemudiin mobil dengan cepet, waw.... 20 menit berhasil sampai di Labsky, hebat. Aku belum pernah lihat dia sekalem & secepat itu.

Disekolah seperti biasa, suasana ledekan geng alsa tentang gue sudah terdengar - ah, EGP; seperti kata Pakdhe Zaenal (guru ngajiku); "Awan dimusim kemarau gampang sekali untuk menghilang tak menjadi hujan" alias "Gosip nantinya akan berlalu - biarin aja. toh yang dosa juga mereka kan?"Nah, mumpung masih ada waktu sekitar 7-15 menit, aku kerjain dulu PR sejarah yang susahnya gendeng - bikin peta pulau jawa ditambah titik-titik peninggalan manusia prasejarah. Aku puyeng soal bikin peta tapi don't worry, kalo aku kalem semuanya bisa Tank-top (Tuntas Klop Top). Tiba-tiba KRRIIIINNGGGG!!! Bel berbunyi, kami harus kelapangan; petaku selesai tinggal diwarnain.

Kami lari seperti biasa dengan rute biasa, tema kali ini Sumpah Pemuda, kelas kami sepakat - cewe' baju putih cowo' baju merah. Dan itulah disepanjang jalan kami melihat berbagai rumah dan orang, banyak yang melototin kami dengan wajah berbeda - wong cilik sing TK melototin kami dengan wajah polos lagi ingin tahu (inquisitive). Sing ngejaga'ake rumah (Satpam) dan staf-stafnya (Sing ngurus'ake rawatan omah - pembantu, dan Sing ngurus'ake 'delman besi' - supir) melihat kami dengan tatapan tanpa ekspresi, dan orang-orang bermobil (terutama yang berangkat kerja) melihat kami dengan tatapan senyuman manis, aku balas senyuman mereka - begitu pula pada sing ngurus'ake omah (Satpam n fren yang tadi tak sebutin) aku senyum pula. N juga ke pedagang bubur kaki lima ditepi jalan, aku mengamati mereka semua... biasa, life observer. 20 menitan dan laripagi kami selesai, yang lain seperti pada tepar. Tapi aku nggak - aku malah belum ngerasa bener-bener capek, oke, capek, tapi dikit BANGET...

Dan lalu, tradisi - pertandingan antar-angkatan. Angkatan 7 vs Angkatan 8 (Angkatanku), ok, kali ini tarik tambang - akh... biasa aku jadi penonton aja lah...kami kalah. Yang cewek maupun yang cowok - tapi aku semangat nonton tetep, apalagi yang cewek, Dini is in da team, yeeee!!!!! Go Dini Go!! Hehehehe....narsis amat cewe yang gue naksir ikutan tim tarik-tambang, kelihatan banget cantiknya lo dari atas (lantai 2). Tiba-tiba geng cewe2 gaul abez ngeledekin gue "Cie, Arkan... Dini ikutan tuh!" Ah. EGP, gue mau ganti baju dulu ya mbak-mbak; udah gerah nih make baju keringetan! Setelah ganti baju ke baju Jum'at aku kebawah dulu- selagi ada waktu ke kantin... tak beli 1 capuccino... akhirnya gue ngerasain Capuccino untuk pertama kalinya dalam 12 tahun hidup gue (Kasian deh gue....)

Setelah itu, Geografi. Semuanya lancar juga mas. Gitu juga sejarah... Semuanya sama aja, cuman biasa....disetiap kelas aku selalu 'ngegali' buku-buku di situ - disetiap kelas ada 2 rak buku - isinya ya buku-buku koleksi gurunya sendiri (biasanya terkait ama pelajarannya - kita pake sistem moving class lo...)

Akh... sudah deh, azan berkumandang, kami solat jum'at, belajar selesai... Khutbahnya kali ini pak Koen. Biasa dengan gaya suara lantang ia mampu memikat semua jama'ah untuk fokus ke Khutbahnya (sayang sekali aku lupa apa isi Khutbahnya).

Oke, semuanya sudah selesai. Aku ke kantin beli eskrim, kulihat Dini n fren jalan (dari jauh), begitu aku ngeliat dia n dia ngeliat aku dia noleh kearah lain - Rasya langsung ketawa dan ngeledek "Hehehe! Panjang Umur, Din!!!" Aku ketawa dan sedih sekaligus didalem ati. Aku berusaha untuk nembak dia waktu dia mau masuk ke Padus (dia exkul padus - paduan suara, hari ini). Tapi koq gak dateng-dateng ya? Ok lah, do something to kill the time, man.... mumpung gedung SMA lagi kosong, aku nyoba sisir gedung itu dari bawah keatas.

Pertama-tama aku lihat satu tempat - mungkin dulu itu parkiran lantai dua atau apa, tempat itu bidang kosong langsung mengarah ke rumah-rumah sekitar Labsky

Aku keluar dari situ - melihat lagi arsitektur gedung SMA yang baru sekali ini kujamahi luar-dalam, selama ini aku baru menjelajahi gedung SMP...so gak ada salahnya men-explore gedung SMA.

Arsitekturnya sama saja, tapi....ada lanskap yang berbeda - dari gedung SMP yang kulihat adalah lanskap luas dengan lapangan bola disisi yang disinari matahari tiap detik. Tapi dari gedung SMA yang kulihat adalah lorong-lorong gelap sempit yang didesaki pintu-pintu Lab dan Mading-Mading tentang banyak hal dan rak-rak buku berisi buku-buku IPS & IPA (secara terperinci) - mulai dari majalah Komputer sampai buku teori Ekonomi! Sangat cantik.... aku suka tempatnya, ditutupi oleh pohon-pohon kamboja yang membuat lanskapnya makin anggun. Dan jika kita jelajahi lebih lanjut sampai kita bisa melihat kebelakang gedung SMA (& sekitarnya) kita bisa melihat betapa Jakarta adalah kota kontras kunang-kunang; saat satu kunang-kunang menyala yang lainnya redup (gelap) cahayanya - itulah Jakarta; cobalah, kulihat satu sekolah berdempetan dengan sekolah kita yang.... Masya'Allah! Ironis sekali...kalau di sini kami melihat jemuran baju pramubakti ada dibagian belakang yang isolated sekali (belakang Mesjid) ini, aku bisa lihat di sekolah itu Jemuran adalah gorden luar jendela kelas! Gila!!!! Mana temboknya retak disana-sini lagi...waduh!!!! Tapi anehnya halamannya bagus sekali, cantik, terpelihara...anggun, elok, mmm.... kata apalagi yang harus kupilih ya untuk menjelaskannya? Pokok'e halamannya maknyus...

Disebelah 'sekolah contoh ironi' itu kulihat 'pemukiman' yang terdiri dari rumah-rumah tua yang 'direnovasi' dengan kumparan Seng rusak sebagai penutup...Tapi diseberangnya...Rumah megah dua tingkat setinggi Labschool, oh my god...Sangat kontras. Kulihat lebih jauh lagi lebih banyak hal itu kulihat! Hingga akhirnya rumah-rumah itu out of range mataku dan aku melihat kebagian SMA yang lain; akhirnya semua gedung SMA ku jamahi dari kaki sampai kepala - puas sudah diriku. Peta Labschool sudah kupenuhi semuanya.

Aku langsung kebawah secepat mungkin, tiba-tiba aku melihat Ara n frens nunjuk ke aku dan ngomong "Keren, Kan, keren...." Apa maksudnya? Dia denger ceramahku tadi? Mungkin saja, dia baru dari kantin - kantin tempat terdekat untuk mendengar teriakkanku itu.
Tiba-tiba Pak Ahong muncul didepan dan bertanya "Gimana Kan? Rencananya?"Aku ngomong dengan agak gagap.... "Yyyyaaa, pak... itu tuh... tadi dia didepan saya ... terus... yah.... SAYA GAK BISA NGOMONG APA-APA PAK!"Namun opiniku tidak didengarnya - Anak-anak kelas 8 mengerumuninya bertanya tentang pelajaran dan guru. OK, tunggu giliran, mas.... sabar! Sabar, mas, sabar!7 menit dan Pak Ahong sudah sendiri lagi, kami berdua ngomong sepanjang jalan menuju ke ruang musik - maklum, namanya juga Pak Ahong; ekskul Padus (Paduan Suara) pengajarnya ya d'only one Mr. Yusuf Ahong pengajar segala macam musik. Dialog kami singkat tapi lumayan juga untuk membunuh waktu
"Gimana rencananya 'Kan?"
"Yya...gimana ya pak? Tadi tuh hampir pak tapi..."
"Ah kamu nih, gimana sih, ngomong aja ke dia"
"Deg-degan pak! Rasanya kayak beku gitu."
"Anaknya yang mana sih?"
"Anak 7D dia itu kalau gak salah, mungkin anak Padus pak, tadi saya liat dia ikut ngantri didepan ruang bapak."
"Udah 'Kan, ngomong aja ke dia. Lancarin rencananya! Cowok jangan malu-malu."Percakapan itu selesai, Pak Ahong masuk ke ruang musik - aku tidak mau nanti dibilang apa lagi....diledek ngikutin si Dini kek, ini kek, itu kek, mana aku juga gak punya alasan valid untuk beladiri mulut kalo nanti aku diteror ama anak padus.
OK, jadi sekarang....gimana? Nunggu Dini keluar? LAMA BANGET MAS! Pulang sekarang? NTAR LU KAGAK BISA NGOMONG KE DINI MAS! Huh....susahnya jatuh cinta, yah.... OKlah, aku coba membunuh waktu dulu - menyisir gedung SMP + SMA dari bawah sampai atas dari ujung kanan ke ujung kiri. Hasilnya bagus juga, makin banyak yang kuserap tentang kehidupan Jakarta - gatewayku menjadi novelis yang mengangkat tema kehidupan zaman sekarang bisa semakin terbuka.

Akupun kembali ketempat lapang itu dimana aku bisa ngelihat rumah-rumah wong kurangan dari dekat sekali. Aku merasakan momentum bagus karena semuanya sepi sekali; hanya angin yang bertabrakan dengan daun yang membuat suara gesekan yang terdengar olehku.... Dengan beraninya, aku bersumpah:

"Gue, Muhammad Arkandiptyo, lahiran jakarta 29 Mei 1996, bersumpah, bahwa, dalam tahun 2045 - Indonesia adalah negeri yang jaya! Dan guelah salah satu bagian darinya! Salah satu bagian dari golden age-nya Indonesia! Indonesia tanpa kemiskinan dan ketidakadilan yang kita damba!...."

Aku rasa itu belum cukup; setiap proklamasi haruslah ada tanggalnya juga, so aku tambahkan lagi....

"Tertanggal 29 Oktober 2008, disaksikan awan dan angin diatas Labschool Kebayoran - karena ku yakin tidak ada manusia lain yang mendengar!"

Aku katakan semua itu dengan suara lantang...Mungkinkah terlalu lantang? Ah tidak mungkin. Tenang saja Arkan - tidak akan ada orang lain yang mendengar, ini spot yang sangat isolated diarea Labschool ini; suaraku menyatakan sumpahku toh tidak seperti suara membaranya Sukarno saat berpidato didepan publik.... oke, sudahlah, terdengar oleh orang lain atau tidak tidak jadi masalah, yang jadi masalah adalah jika sumpahku tidak terlaksana oleh baik denganku.
Aku lihat jam, ternyata Dini masih lama keluarnya (Ekskul pada selesai jam 1.45an, sekarang baru jam 1). Ah ya sudah lah, Forget it! Aku pulang dulu ya Dini, I hope u can feel half ur soul are gone when I step out from d school to go home... C U next week Labschool!

Dirumah aku merasakan second heaven; ibu tidak ada dirumah sampai jam 7-an, YES!!!!! Aku lakukan semua yang kusuka dari bersantai didepan TV, mabok-mabokan stock FresTea & snack dikulkas atas, main piano dan tentu fokus nge-game didepan My Sweety Computer.

Tiba-tiba jam 10, Suara taxi hadir didepan rumah - kulihat lebih jelas, Mas (sebutanku buat Papa/Ayah/Bapak, sori kurang sopan tapi itu refleksku dari dulu) sudah balik dari Aceh! Tentu dengan oleh-oleh, ternyata oleh-olehnya kue bolu dari Airport, tapi tak apa... Wuenake Maknyus, aku coba variabel campur kue bolu itu dengan Es Krim Stroberiku...Wes! 300% Lebih enak daripada roti isi Es Krim khas jadul yang ibuku bilang itu!

Akhhh...capek juga hari ini, jam udah nunjuk 12 malem nih.... Kalo ini besok weekday, pasti aku udah digebukin pakai omongan sama Ibu. tapi berhubung ini Jum'at...freedom is mine baby! Yeah! OK, enough sudah. Aku ngeblog sampai disini dulu, ya.....


MasterMister ArkanovIK logging out.....TINEETTTT.....TUIIIITTT!!!BRZZZZ......SSSSHHHHH.....NIEEEETTTT!!!!!!!!!NEEEETTTTT!!!!!!!!!!!System is Shutting Down


Wassalam
Auf Widherseien, Mein Freund
Au Revoir, Mes Amis
Pareng, Mas/Mbak.....