Saturday, March 28, 2009

Kopitilam Oey n Nuansa Romans in Menteng

Menteng, Jakarta
28 Maret 2009, Sabtu

Hari dengan curah hujan gerimisan-menengah, hari yang indah untuk tidur, ngelamun, dan mesra-mesraan...hehehe. Kami hari ini akan mencari-cari makanan makan siang yang top kletop nge-pas sama selera - menuju ke arah Menteng kami memutuskan untuk mencoba 'Kopitilam Oey' di salah satu 'blok kios lama', maksudnya daerah jalan-jalan seperti Jl. HOS Cokroaminoto, Jl. KH. Agus Salim, Jl. Sabang & sekitarnya...

Ya, Kopitilam Oey (baca: Kopitilam Wiy), restoran kecil (warkop juga sih) di Jl. KH. Agus Salim di Menteng, yang dikelola oleh sang pengemuka 'Mazhab kuliner' Jalansutera; siapa lagi kalau bukan Bondan Winarno; tentu kami akan ke sana, melihat bagaimana restoran yang didirikan oleh sang pakar Kuliner negeri ini, apakah bisa memperlihatkan kepada kita ke-pakar-an kulinernya. Dan ini juga berhubung karena p'Bondan adalah teman mas (bokap)...

Ternyata kami beruntung sebagai orang-orang pertama yang mengetahui keberadaan Kopitilam Oey ini; karena dalam status 'Soft Opening'nya ia memberikan 50% discount untuk semua minumannya. Entah kenapa tidak pada makanannya - namun nanti kami mengetahui kenapa diskon tersebut hanya untuk minuman saja (bukan karena promosi atau karena biaya membuat makanan mahal...bukan itu, bukan).

Disana, ternyata kami bertemu langsung dengan p'Bondan sendiri, maklumlah restoran baru biasanya diawasi langsung oleh sang pemilik...baru jika mulai lancar maka akan dilepas...Maklum. Ia menyapa kami dengan hangat, kami mengambil tempat duduk...kami menanyakan menu yang nge-top apa kira-kira...ia bilang yang nge-top untuk lunch itu: Gado-gado & Lontong Cap Go Meh Bonbin serta juga gak ketinggalan Sate Ponorogo...Kami pun

memesan rekomendasinya itu. Kami sempat bertanya jawab beberapa pertanyaan, seperti kenapa di dalam menu ada menu breakfast dan tiap-tiap

waktu makan itu makanannya berbeda. Menu breakfast sendiri itu ada karena ternyata Kopitilam Oey itu buka dari jam 7 pagi...n adanya varietas makanan

tersebut ya tentu untuk ke-unikan dan juga karena Kopitilam Oey sendiri memakai konsep Koffie Oey di Nederlaands sana yang sama - mereka hanya

menyediakan minuman, dan sedikiiit makanan. Makanan yang lain 'impor' dari luar kafe (kq 5-an) (tapi kalau di Walundo sana makanannya berjajar di

depan Kedai, sayang pemilik bangunan sekitar tidak mengizinkan sistem itu diberlakukan...alasannya: higienisme aka kebersihan, kalau di Londo sana

tentu bisa tertib n bersih, tapi di negeri ini...o...harapan sangat kecil. Dan selain itu tentu akan mengganggu parkiran, itu sangat tidak diizinkan n juga tidak

diharapkan).

Minuman kami bertiga beragam, aku dan mas memilih Ijs Teh Mint sementara ibu memilih Wedang Uluk Wonosari...sambil menunggu pesanan kami

melihat interior kedai tersebut yang antik, dihiasi oleh poster-poster tentang kopi, teh, sandwich, dari luar negeri zaman tahun 40an s/d 70an dan

poster-poster jajanan melayu tempo doeloe dan poster2 kopi/teh/kedai Belanda. Antik benar interiornya, begitu pula perabotannya yang khas mirip kursi

kedai yang agak pecinan, benar-benar mengembangkan nuansa tempo doeloe yang kental, mantab pokokne rek...

Tak lama kemudian, pesanan datang, antik benar...Lontong Cap Go Meh yang sangat mirip Kupat Tahu betawi, lalu disertai Gado-Gado dan Sate

Ponorogo, sangat khas...p' Bondan memberi penjelasan; katanya Lontong Cap Go Meh perbedaannya memang sedikit dengan kupat Tahu, bumbunya lebih Chinese dan ia ada opornya, sementara Gado-Gadonya benar-benar terbuat dari kacang tanah yang baunya khas, ditambah gula aren yang pol dan disertai sambal terasi di bagian pojok piring untuk mereka yang ingin mendapatkan sensasi pedas...sementara Sate Ponorogo ternyata mirip sekali sate padang, tapi kacang tanah untuk sausnya ternyata dibuat sangat spesial; bagian putih-putih di tengahnya di keluarkan untuk mengeluarkan rasa pahit dari kacang. Sangat spesial ternyata...ia juga bilang, mencari Sate Ponorogo itu sendiri sangat susah, hingga akhirnya ketemu satu di Cibubur dan ia bawa ke kedainya itu, jadi memang specially made Sate tersebut itu. Gado-Gado n Lontong CGM nya sendiri dari Gado2 n Lontong Bonbin yg terkenal t jauh dari situ(masih di daerah Menteng).

Ketika kita cicipi...muantapne terasa banget!!!! Saus kacang Gado-Gado tersebut manis dan ketika dicampur dengan sambel terasinya benar-benar terasa kenikmatan gado-gado sempurna! Parfait! Lontong Cap Go Mehnya tidak jauh beda rasanya dengan Kupat Tahu Betawi, tapi tetap saja pas.

Sementara menurutku d special food goes to...Sate Ponorogo! Waw, ayamnya sangat halus...kata p'Bondan itu rahasia para pembuatnya, dan saus kacangnya mirip saus Sate Padang tapi lebih lembut, tidak terlalu asin, tapi justru manis seperti saus kacang Sate seperti biasanya, waw! ditambah Lontong...Tapi sepertinya kami kebanyakan Lontong, Lontong CGM pake Lontong, Gado2 juga, Sate Ponorogo juga...mati aku iki, Gusti!

Tapi tenang saja, itu bukan masalah besar, setelah perut kami kenyang makan, minumannya pun hebat...Ijs Teh Mintnya bener2 terasa mint, kayak odol...beda dengan teh mint di tempat lain yang sekedar...seger kayak mint aja...tapi ini benar-benar layaknya mint betulan, terasa odol...dilain pihak, rasa semeriwing-semeriwing pedas segar dingin dari teh mint itu diimbangi oleh Wedang Uluk. Wedang Uluk memang bukan minuman biasa, Uluk, secara harfiah dalam bahasa Jawa, berarti sampah - seperti halnya teh ini, yang diseduh rangkaian 'sampah' herbal seperti sirih, jahe dsb. Tapi manfaat, khasiat, dan rasanya tidak seperti 'uluk' - justru sangat enak. Hangat, layaknya Wedang Jahe. Mantap.

Setelah semuanya selesai, kami bayar... total 90,000 (termasuk PPN 15%), makanannya 60,000 minuman 20,000 tapi minuman seharusnya 40,000 karena ini sudah dipotong diskon. Murah juga, kalau kondisi normal, ya berarti kira-kira Rp.40,000-an per orang. Value-for-money nya lebih dari memuaskan.

Kamipun keluar sambil pamit kepada p'Bondan...diluar kami merasakan hujan rintik-rintik di daerah Menteng dan kemudian kembali ke rumah (jalan pelan-pelan), aku pun merasakan nuansa-nuansa masa laluku hadir kembali...kala-kala aku bercakap-cakap dengan sayangku itu, di bawah atap sekolah, dalam hujan rintik-rintik seperti ini...jam 2 juga...ah...betapa indahnya. Aku juga merasakan kembali ingatan masa kecilku (dulu sebelum di Pejaten aku di Saharjo rumahnya, jadi Menteng itu daerah mainanku juga). Betul-betul saat itu aku merasakan nuansa nostalgia, fikiranku kembali ke masa-masa indah romansa ku dan dia itu...ah...cinta...kala engkau bersiul rasanya nikmat sekali, namun kala kau merajam rajamanmu menembus dada...cinta...cinta...ah, Cinta! sesuatu yang tak bisa dipisahkan dari hidup seorang M. Arkan...selain idealisme dan makanan.

No comments: