Saturday, December 10, 2011

Mom's Manila Graduation! Part 1

Feeling a Stranger on Friendly Soils
Comment un Etranger chez Amis


Yes guys.
Setelah lama akhirnya gw balik lagi nulis.

Ya, seorang "gue" yang slengean dan cengengesan.....
Malem ini, tepatnya pagi ini waktu Singapur (tempat sekarang gw berdiri -dan gw serius, berdiri ngambil Internet gratisan di budget terminal). Gw sedang feeling aneh.

Ya, judul yang gue pilih menjelaskan outline cerita gue pagi ini; feeling a stranger in friendly soil... menjadi seorang yang 'tersesat' di antara kondisi yang (tampaknya) cukup friendly, mirip, dan bersahabat....

So here's the story.
Gue sedang transit, sekarang saat tulisan ini pun ditulis gue masih transit di Changi, Singapur. En route ke tujuan gue Manila di Filipin sana. Ada apa tiba-tiba seorang wong nDeso ngKuta kaya gue bisa hinggap ke Manila? Simplecement, boys; emak ku mbakalan wisuda S2 (Yeay!). Yeah, di umurnya yang udah 4,5 dasawarsa itu dia masih mau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hebat pula ia dapat beasiswa dari ADB, sekolahnya di Manila Filipin. Tempat yang sama bokap gue kuliah S2.

Hmh, sore-sorenya. Jakarta, Airport, Cengkareng, Soetta. Semua oke. Semua berjalan baik, naik Tiger Airways, makan di Lounge-Lounge Airport mahal itu dengan gratisan gara-gara bokap gue mengeluarkan kartu-kartu saktinya....*baca: credit card premium yang banyak gratisan, . Sayang Lounge yang gue singgahin agak nanggung, soalnya kartu "tersakti" (dari "Bank Lokal Dunia") bokap gw ketinggalan jadinya ga bisa masuk gratisan ke Lounge exklusif....

It all goes well. Masuk ke Tiger Airways, semua masih ok, all Indonesians. All brothers and sisters - Bokap langsung tidur begitu pesawat udah stabil, gue seperti biasa kalau night flight justru susah tidur. belakang gw ngoceh terus - maklum, dari percakapan yang gue denger, mereka anak ITB teknik industri yang baru lulus and mau celebrate "kemenangan" nya di Kota Singa. Depan gue anak-anak Singapo' Malay yang kembali ke kampung halaman setelah sesaat di Jakarta, sebelah gue n bokap ada cosmopolitan mommas, mak-mak muda yang jalan-jalan dengan style keblinger....blackberry n lipsticks on the pouches. Berbicara tentang Marina Bay Sands, Takashimaya, dan... well, shop and glamours down the lights of the city of Lions

55 menit kemudian- jam 11 waktu Singapur kita sampe di Changi Budget Terminal, Imigrasi dkk. semua gampang, jipil, but waktu kita mulai beranjak ke Departure Budget Terminal (kita notabene cuman Transit 2 jam), kegilaan terjadi saudara-saudara. Disini dia CERITANYA:

Kita berdua, in the middle of night jalan dari arrival ke departure, cuman beberapa menit - masuk ke daerah check-in, langsung ke queue barisan Tiger Airways ke Manila pagi itu; belum banyak orang. Didepan kami beberapa pinoy yang mau balik ke kampung halaman, Boss bilang "iku mbatur-mbatur" nunjuk kepada beberapa perempuan didepan kami - Yes, Pino memang salah satu Negara yang banyak pekerja luarnegerinya selain Indonesia, terutama juga TKW yang jadi Batur alias PRT (nanny/nan) atau, sopannya, househelper/assistant. Atau kata orang mereka, "Balikbayan".

Dari pertama kali melihat antrean para Pinoy didepan kami, kami bisa lihat - mereka ga jauh beda dengan kita; para Balikbayan yang mulih ke kampung halamannya itu membawa banyak oleh-oleh, bahkan ada yang membawa TV LCD dengan pakaian ungu yang "glimmer" dan sepatunya? Reebok Reezig! dkk. nya - sama saja, a show of so-called "achievement" kepada mereka di Barangay/kampungnya setelah bekerja keras di perantauan; untungnya, otoritas bandara disini sadar diri akan itu - mereka sampai buat counter "Odd Size Baggage Drop" buat mengangkut benda-benda "eksibisi prestise" itu. => Harusnya Soetta mencontoh ini buat fasilitasi para TKI Tapi Ada juga yang sederhana saja, cukup membawa diri dan koper kembali dengan 1-2 kantung palastig berisi oleh-oleh.

Tapi para orang-orang yang kembali ke Manila bukan hanya para Balikbayan ini; ada juga solo traveler dengan tampang dan tas backpacker besar yang tampaknya merasa puas dengan perjalanan dan beberapa turis keluarga, dengan berbekal tas backpack ukuran menengah dan kamera DSLR Canon ditangan sang ayahanda, laptop di tangan si anak perempuan dan sang Ibu dan adik laki-laki bersenda gurau membawa koper-koper carbonite American Tourister, yang, setau gue, mahal.

Tak lama setelah kami check-in selesai, antrian memanjang, sangat panjang; tampang dan paspor masih sama - Pasaporte Pilipinas. Gue tanya pada Boss bokap, "Ngejar Year-End ya? Kan masih lama mereka...". Langsung Bokap menuntaskan jawabannya "ngejar natalan, kan kebanyakan Pinoy katolik." Gue segera sadar, Pinoy memang kebanyakan Katolik; Natal memang menjadi semacam ajang 'mudik' juga bagi orang-orang Katolik. Tak usah jauh-jauh, sahabat gue yang sekolah di sebuah SMA Katolik yang prestis di Jakarta, awal Desember udah selesai ujian dan siap libur. "Cepet amat dai, gue aja baru mulai ujian." Tukas gue. Dia jawab "Ngejar libur panjang natal bro katanya. Gue sih ikutan seneng libur panjang aja, hehehe."

Figur-figur yang makin beragam menunjukkan mukanya di antrian check-in itu; mulai dari para Balikbayan yang glamor, yang sederhana, backpacker Pinoy sejati, turis sekeluarga, rombongan ataupun yang gak pake jasa travel...pebisnis Pinoy yang tampaknya baru selesai lobi dengan koleganya di Kota Singa ini, sampai keluarga Pinoy yang berpaspor United States of America (kata bokap lumayan banyak orang Pinoy yang di Amerika, gue sih, udah tau - pemain bola Filipin pas lawan Indonesia kan banyak ngambil dari yang bi-nationality Pinoy-Amrik). Semua menuju penerbangan Tiger Airways dan Cebu Pacific, penerbangan malam terakhir (penerbangan pagi pertama kalo lihat dari jam, hihi)

Laper, kami pun mendekat ke McD yang ada didekat counter check-in. Baru ngantri, Boss teringat "shit, gue lupa... Dolar Singapur. Dek, tanyain gih mereka accept kartu gak." Aku tanya saja dan kata mereka credit card diterima, yo wis, kami pun makan Kentang, Cheeseburger, dan McWings 4 biji dengan minum Coke.
Saat duduk dan makan disitulah, gue merasa sangat, well... sens etranger, merasa seperti orang asing; muka-muka disekitar kami nampaknya sangat familiar, tapi suara yang keluar dari mulut mereka...

"Ta'ping tapos na?" "Talaga!" "Ka sini to' sa..." "Ah... bang! Mabuhay! Sini ka' lah" "Parapaning pangaban.."

whew, man, two lonely Jakarta guys stuck in a restaurant full of people speaking a language they don't even understand - Tagalog. Meskipun pengalaman bokap tinggal di Manila mengajarkannya beberapa Taglis (Tagalog-Inglis) slank khas Metro Manila (Jabodetabek-nya Filipin), tapi ia juga tak tahan dengan kegilaan itu. sekitar 10 menit setelah kami menghabiskan makan, meskipun boarding time masih cukup lama, ia mengajakku untuk lebih baik masuk ke dalam, ke area tunggu, bukan di depan dekat counter-counter check in.

Kurang dari setengah jam kami merasakan itu. Tapi man, buat gue yang baru pertama kali merasakannya - perasaannya sangat.... aneh, nggilani. Feels weird, kalo di kelas Prancis dulu - je suis etranger. Bayangkan sendiri, di ruang luar, check-in; no other people bicara Indonesia - hampir semua Taglis, hanya ada beberapa bule yang nasibnya sama seperti kami. Jumlah orangnya banyak, banyak banget untuk ukuran Airport, dengan barang bawaan yang banyak seperti kalau kita mudik, perangai-kebiasaan dan muka yang mirip. Seakan-akan, man, ini Indonesia tapi gak pake bahasa Indonesia. Kedengerannya ngebaca satu kalimat tadi pasti aneh. Aneh banget, tapi it's the real feeling, man.
Bokap yang sudah sering jalan-jalan ke banyak Negara (+- 20 Negara, seingetku) pun dari bahasa tubuh dan matanya terlihat masih agak feeling weird dengan itu....

Aku seketika teringat tulisan Ka' Trinity di TNT tentang pengalaman dia di Filipin, lupa sih persisnya, tapi ceritanya cukup sama.... bedanya dia ngalaminnya di Cebu, yang memang, well, udah biangnya di Filipinnya sendiri, ini kami berdua belum sampai Manila, baru di Changi aja udah begini. Sempet juga beberapa kali di ajak ngomong Tagalog. Gue sih tanpa sadar dengan otomatis cuman ngangguk-"senyum monggo" khas Jawa yang kental tanpa keluar kata - terkaget sekaligus kagok dengan kondisi yang seperti ini.

Maklum namanya juga traveler yang masih dan terus belajar, hehe. Betul guys? :) ^

Untungnya di ruang tunggu kami menemukan kenyamanan yang bernama Internet dan TV, sehingga setidaknya ada pengalih perhatian untuk sesaat, ya, saat sekarang gue sedang menulis tulisan ini juga.

Well, apparently, lampu boarding sudah nyala di TV Display Flight Schedule, jadi, gue harus secepatnya kesana - sebelum "badai antrian" datang....

Cheers guys, see you next in my writing tentang our first day di "Nusa Utara", Kepulauan yang di Utara Indonesia a.k.a Pinoy - tempatnya di 123 Paseo de Roxas, Makati City, Metro Manila, Luzon, the Philippines.

Ton ami,
-MAr
Budget Terminal Changi Airport, Singapore, 01:32 AM, 09122011

Wednesday, July 27, 2011

Cinta

“Denger ya, gue….gue ga suka, sama lo. Gue benci sama lo.” 
Aku mendengar kata-katanya, tapi tidak melihat detil air wajahnya. Aku bersikap lebih pengecut lagi ketika itu, melepaskan kacamata dan memundurkan wajahku hingga yang bisa kulihat adalah bentuk-bentuk buram.

Aku menyesal, seharusnya aku memakai kacamataku saja, karena meskipun rasanya akan menyesakkan, aku ingin melihat mata hitam bundarnya itu, apakah ia berisikan nyala api kebencian yang sesungguhnya ataukah ada sedikit cacat didalam “kebenciannya” – adakah mata yang sayu sesaat yang ia paparkan ketika berpapasan denganku atau melihat keberadaan diriku didekatnya hampir tiap harinya. Aku ingin melihat hatinya lewat cara yang telah aku gunakan selama ini, lewat matanya.

Namun apapun yang tertinggal di lima detik yang membuatku hancur seketika itu, aku pulang ke rumah dengan hati yang tak tentu, tidak ada penyesalan atau kesakitan, namun kekosongan memenuhi hati. Sebuah rasa yang tidak tahu harus kemana arah berjalan, harus apa yang dilakukan berikutnya. Kekosongan mutlak didalam jiwa memukulku telak di sanubari nurani. 

Aku kira hari itu pula Tuhan telah benar-benar memutuskan untuk memutuskan benang merah tipis yang mengikatku dengan dirinya yang ku pikir ku cintai setulus hati.

Aku salah, semua itu bahkan bukanlah cinta, ia hanya obsesi buta yang merindukan kehangatan seorang perempuan berpipi gembul cempluk yang ku panggil sebagai beruang maduku.

Namun kuputuskan ku ingin mencintainya lagi, seperti dulu. Jauh sebelum semua ini menjadi bencana, ketika kami hanyalah dua orang yang saling bisa tertawa ringan dan bercerita.

Walau itu semua ketika itu hanya bertahan dalam waktu kurang dari sebulan…..

Karena ku yakin, jika aku bisa menemukan cinta itu lagi, hidup bukanlah masalah karena cinta adalah anugerah terindah dari Tuhan. Anugerah yang ia karuniakan mendampingi sifat pertamanya Ar-Rahman – Sang Maha Penyayang. Cinta itu kesempurnaan yang datang dari Tuhan, dan karena kesempurnaannya, seringkali kita lah yang menyalahgunakannya dan menjadikannya sebuah instrumen manipulasi sempurna atau ketika kita terlalu bodoh untuk menggunakannya sehingga orang lain tidak dapat mengerti pemikiran dan perasaan brilian yang sesungguhnya kita rasakan, bahkan hingga mencap diri kita sebagai orang yang layak diabaikan.

Namun untuk mereka yang sanggup mengimbangi dasar kesempurnaan yang dimiliki Cinta itu sendiri dengan kesempurnaan karunia Tuhan yang sebenarnya ada di seluruh jiwa raga mereka, balasannya adalah suatu kehidupan yang terus menghasilkan karya-karya yang tak ternilai harganya, walaupun bagi kebanyakan orang awam semua itu mungkin tampak biasa saja ataupun tampak amat luar biasa namun bagi para pelakunya sendiri tentu keberhasilan-keberhasilan itu menjadi sebuah kesejukan hati yang tiada habisnya.

Dan aku ingin mendapatkan Cinta itu kembali. Walaupun ia tak bisa dikejar, ia tak bisa dicari, ia tak bisa dipaksakan, namun setidaknya biarkan hatiku percaya pada kekuatannya hingga kelak dia akan datang kembali di dalam diri. Karena Tuhan tidak menciptakan sekecil apapun suatu ciptaan untuk sebuah kesia-siaan, termasuk rasa kesakitan yang membunuh pelan-pelan di dalam hati kecil ini.

Itu satu keyakinanku.

Dari situ aku berangkat lagi percaya kepada Cinta, dan percaya, pada Tuhan bahwa semua ini ada maksudnya demi kebaikanku seorang yang telah jatuh bangun berkali-kali demi kehidupan, dan demi kebaikannya yang ada di seberang sana, tertidur dalam mimpi-mimpi cinta, korea, teenlit, dan fantasi kehidupannya sendiri dan esok pagi jika Tuhan menghendaki akan kembali bangun untuk menjalani kehidupan putih abu-abunya yang berwarna. Kelak kami akan keluar dari semua masalah ini menjadi sebuah pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Dan di bawah langit hitam di sebuah sudut sunyi kota kemenangan Pangeran Falatehan ini, aku berhenti menuliskan catatan dan melihat keluar jendela, pandangan menuju arah yang tak tentu dan cakrawala yang tak berbatas, aku berbisik kecil didalam hati. Memanjatkan impian pada Dia yang ada di seluruh ruang dan tempat.

“Tuhan, yang aku impikan hanya sebuah hal yang sederhana, tapi aku mohon, kabulkanlah permohonan sarat makna ini –
Berikanlah dirinya dan diriku apapun yang terbaik untuk kehidupan kami, di dunia dan di akhirat”

Sunday, July 24, 2011

Un lettre a mon coeur

Pour Arkan,

Il y a trois annees des possibilites pour toi en Indonesie avant partir pour la pay de la liberte, France
Il n'y a pas longtemps.
Alle en un aventure pour gagner ton vie. Pas-ce que en la vie real, tu doit gagner
Et pense! Tu as tu toujours.
Et elle est ton cherie pour tous ton vie.
Alle! Alle! Alle!

-Ton Coeur

Sunday, June 12, 2011

The Neighbors of North - Un Prelude (Perkenalan)

Kembali lagi, guys, musim liburan summer ini ge-we pergi backpacking lagi. Question: where to? Tour Siam-Indochina, dimulai dengan perjalanan seharian di Krung Thep/Bangkok, dan lalu terus menuju ke arah timur, melintasi perbatasan Kamboja menuju ke Siem Reab untuk menikmati mahakarya manusia - 'kota candi' Angkor Wat dan mahakarya Tuhan - Danau Ton Le Sap, danau terbesar di Asia Tenggara Daratan, dan terus setelah itu menuju ke timur lagi, ke ibukota negara tersebut - Phnom Penh, yang merupakan pertemuan sungai anak danau Ton Le Sap dan sungai raksasa mahadaya Indochina - Mekong. Dari Phnom Penh kami akan berputar-putar daerah Tenggara Kamboja sebelum merangsek ke negara terakhir di Asia Tenggara Daratan yang berbatasan dengan LCS/Laut Cina Selatan: Viet Nam, tepatnya daerah Saigon/Ho Chi Minh City & daerah Cuu Long alias Delta 'Sembilan Naga' Sungai Mekong. Sebelum kami akhirnya tidak bisa terus ke Timur lagi dan harus berputar balik ke Selatan, kembali ke pangkuan kota Jakarta tercinta.

Perjalanan ini akan berlangsung selama 10 hari, dengan 2 hari di Bangkok, 3 hari masing-masing di Siem Reab, Phnom Penh dan Sai Gon. Orang banyak yang bertanya - mengapa tidak 3 hari di Bangkok? Alasan awalku adalah sebuah pepatah sederhana - hal-hal terbaik justru didapat lewat kesederhanaan, alias, di daerah-daerah yang justru kurang diketahui banyak orang (baca: Kamboja) - maklum, ge-we memang penikmat toure solicitaire, menyendiri, menjauh dari keramaian, meski kadang sedikit saja keramaian dibutuhkan dalam perjalanan untuk membumbuinya.....

Sekian dulu perkenalan tur ini, oh ya, catatan2 perjalanan ini aku 'Headline' kan sebagai 'The Neighbors of North' alias Tetangga Utara. Kenapa? Gampang - 3 Negara ini utaranya Indonesia kan? Iya. Yah gitu deh jadi jawabannya, hehehehehe.

See you in Bangkok, Cambodia, Saigon, guys!

Yours,
-MAr

Sunday, May 8, 2011

Pernak-pernik Bumi Ngapak : Power of Prayer

Sedikit pernak-pernik tentang doa hari ini....

Ini memang tanda kebesaran kalau doa dan keyakinan yang besar dapat berbuah hasil yang maksimal.

Sejak kemarin hujan telah melanda Karanganyar & daerah sekitarnya, semuanya tak tentu - dari panas bisa langusng hujan deras kayak badai yang bikin nyeremin, kadang juga udah mendung petir-petiran ga ada hujan....dan hari ini aku sudah plan untuk menjelajah pantai selatan, Karangbolong dan Petanahan...dan siangnya makan siang di Ambal, mencari sate Ambal yang asli... sebelum kembali ke Karanganyar....

Aku sudah berdoa dari kemarin2 agar pada saat ke Petanahan dan Ambal the weather is fine. Berkali-kali semua lafalan doa di ucapkan, mulai dari sekedar Al-Fatihah sampai wirid-an komplit yang terhafalkan dikepala, diucapkan, kala solat dan kala hujan, dan mendekati momennya, semakin sering....

Sampai Karangbolong, hujan masih datang, imanku goyah, harus pasrahkah diri ini? TIDAK, tetap berdoa sepanjang jalan, cerah sampai Petanahan, sampai Ambal, sampai kembali ke Karanganyar.

Memasuki Petanahan, jam 9.30 awalnya masih hujan, dan aku tetap berdoa, aku ke WC sebentar karena sudah kebelet, setelah itu ke area pantai...dan....HUJAN BERHENTI, langit biru, tidak panas, tapi cerah, Perfect Weather as I wished. Kegiatan mengamati kehidupan, berburu foto dan menikmati penganan di pinggir pantai pun terlaksana sentosa. Semua berlanjut hingga makan siang di sate Ambal pak Kasman dan terus sampai Karanganyar....

Ternyata benar, kalau kita tetap berdoa, bahkan di saat-saat terakhir tetap percaya dan berdoa. Semoga Tuhan menghendaki, Insya Allah....doa itu terwujud....

Tapi ada satu saran lagi, ini kan soal cuaca, jadi benar-benar pasrahkan pada Allah....tapi kalau soal lain yg pake usaha, ya usaha dulu.

Saturday, May 7, 2011

Crashpack Bumi Ngapak (Pernak-Pernik) : Gowes...terus (?)

Lagi, sedikit cerita dari Karanganyar....

Sampai hari ini, ada satu kisah kecil yang aku selalu suka akan kota ini. Tidak seperti kota lainnya di Jawa, jangankan Jawa, cukup Jalur Utama Pantai Selatan saja, penggunaan sepeda di kota ini masih tinggi - belum kalah tempat oleh motor.

Semua generasi di kota ini, komplit lah pokoknya - pagi-pagi anak sekolahan SD-SMP-SMA semua, dengan sepeda mereka ada. Tak ketinggalan para kaum ibu berbelanja di pasar dengan sepeda, juga para bapak-bapak yang bekerja, siang sore juga sama.

Lebih uniknya lagi, mayoritas sepeda yang terlihat dengan mata selama ini....adalah apa? Sepeda Onthel alias sepeda tua jaman 60-70an....dengan merek yang mungkin sekarang di kota sudah jarang melihat....contohnya sepeda buatan China dengan merek Phoenix....ya, tidak salah lagi sepeda Onthel, dan mayoritas masih terawat bagus....*sayangnya punya mbahku nggak begitu*

Sepeda onthel, bukan sepeda konvensional atau MTB ataupun Fixie yang sedang marak di Jakarta....ini Onthel, asli.

Pertanyaan kini, sampai kapankah sepeda bisa menjadi tren transportasi di kota kecil ini? Sementara gencaran produk Motor makin marak? Namun hipotesa lainnya, justru apakah, dengan seperti ini, justru Karanganyar dapat menginspirasi kota-kota lainnya untuk bangkit melawan serangan produk motor yang gencar dan justru menjadikan gaya hidup tradisional nan bermanfaat ini sebuah era mekar kembali? Sayangnya semua itu harus dilakukan dengan niatan baik dan teguh....

Impianku, semoga hipotesaku itu bisa terwujud. Amin.

Love, peace and respect, untuk semua pengguna sepeda sebagai transportasi utama di Indonesia.

Crashpack Bumi Ngapak (Pernak-Pernik) : Udhan (maning) !

Hari itu Jumat, ba'da Jumatan, aku rencana pergi menulusuri pantai selatan asli, dari Karangbolong hingga Mirit....dengan highlight di Petanahan....

Ternyata rencana itu gagal, hujan tiba-tiba datang....sangat kencang, aku sampai ngeri, mumpung soalnya rumah Mbahku, seperti banyak rumah tua Jawa pada umumnya, dikelilingi kebun yang banyak pohon....

Hujan itu awalnya cepat, hanya 1/2 jam. Namun tak sampai 10 menit turun lagi, kali ini lebih dahsyat dan lebih ngeri. Sampai jam 4.30 belum reda, dan akhirnya reda sepenuhnya jam 5. Maghrib (yg waktu setempat jam 5.35) turun lagi namun hanya sebentar dan gerimis saja. Malamnya jam 7 turun, tapi seperti Hujan Jakarta - Deres, Berangin, Cepet.

Esoknya hujan datang lagi siangnya, dan hari sebelumnya, kamis, di pagi hari hujan terus sampai Zuhur.

Anehnya semua ini terjadi sekarang di bulan Mei. Yang seharusnya tidak hujan dan malah harusnya panas...

Global Warming memang sudah terjadi kawan, bahkan di pojok kecil dari dunia ini, di kota kecil ini, efeknya sudah terjadi....terlihat pula ada distorsi dari siklus pertanian disini....

Perubahan iklim ini memang tanda besar bahwa kita telah berbuat bencana, manusia sendiri yang meghasilkan semuanya.

Pertanyaannya, seberapa jauhkah semua ini akan berlangsung? Akankah kita mampu mengubahnya? Dan mampukah kita beradaptasi dengannya? Setidaknya, para petani, di daerah ini, telah memulai beradaptasi....mengubah kalender panen dan tanam Jawa yang sudah ada berabad-abad sebelumnya....

Marilah kita merenung sesaat.

Crashpack Bumi Ngapak (Pernak-Pernik) : Cah Ngampung Ngomongne Pek-Bhe

Sekilas pernak-pernik dari Karanganyar....

Terjadi tepat kemarin, saat baru menemukan warnet di sekitar Jalan utama yang dilintasi Jalan Utama Pantai Selatan...

Sudah sekitar jam 8.30, baru saja aku pergi dari Pasar Malam di sisi Barat Alun-alun, ingin menulis semua pengalaman hari itu, hari pertama crashpacking ke tempat ini.

Masuk-masuk ke warnet itu, tidak kalah dengan warnet di Jakarta, mumpuni, AC, komputer bagus....headset dan pernak-perniknya....pokoknya kalo disetarakan dengan warnet rata-rata di Jakarta setara lah.


Di tempat sebelah ku ada jejeran 3 anak, bermain game, malem-malem seperti ini : PB mainannya, gak kalah sama anak Jakarta. Ya, PB alias Point Blank - mainan FPS alias First Person-Shooting, tembak-tembakan modern, macam-macam CS/Counter Strike....ya hampir semua orang game tahu.

Awalnya mereka masih kalem, diam....fokus, gaya player yang talk less do more dari observasi awalku. Ternyata baru 3 menit aku buka blog ini, mulai lah terlihat sisi aslinya. RIBUT. Sangat ribut. Andai saja tidak ada Pejuang/Pahlawan bernama Cilik Riwut yang namanya diabadikan sebagai nama Bandara di Kalimantan Tengah (kalo gak salah), yang satu ini mungkin aku sindir dengan namanya.....

Mereka mulai menyalak sana sini, komentar dengan gamenya....

"Lha ko iso nembus? Wah nge-cit yo...."
"Tembakke bae yo nang kono...."
"Bos kabur....ning iku mawon bokong dolanane...."

Mulai dari menyalak yang strategis, kritikan terhadap yang main curang, sampai luapan kebahagiaan pun juga ada...

"Yes! Ngono to, matikno ko'en"

Bahkan, kadang, "kebun binatang" pun keluar komplit dari tiga mulut-mulut kecil itu!

"Ng-as*, alah...."
"Wah, telek wedhus!"


Sebagai remaja yang juga kadang main game di waktu luangnya, ya aku ngerti lah. Tapi mereka ini ternyata SUANGAT RIBUT, melebihi suasana ribut nge-game yang aku tahu. Dan ng-aneh nya, mereka ttep ribut meski sekalipun di daerah campur nge-game dan nge-net....kalau di beberapa tempat di mana tempat nge-game dan browsing saja campur, kadang mereka gak berani...

Yah, ini tanda perubahan. Sekalipun Karanganyar ini adalah tempat yang aku berani bilang dengan komentar yang sama dengan seorang penulis travel terkenal mendeskripsikan mengenai Vientiane, ibu kota Laos...
"a place which changes, but doesn't have any urgency to do it quick. An impression of a time warp..." Sebuah tempat yang tidak ingin terburu-buru untuk berubah, masih tradisionil, perubahan sudah datang ke tempat ini - dimana pemandangan macam ini aku tidak temui setahun yang lalu saat mudik Lebaran....

Dan hebatnya lagi, pemandangan itu datang cukup cepat. Kurang dari satu tahun cukup cepat untuk kota kecil macam ini.

Separah apakah kedepannya? Entah.

Friday, May 6, 2011

Crashpack Bumi Ngapak (II): Masing-masing berjalan sendiri

Last Episode: Sepurne ngadat, ngadat di Cirebon, lalu Ketanggungan, dan Prupuk. Setelah itu kereta Sawunggalih Bisnis itu berjalan lagi, ia berusaha untuk mencapai kecepatan maksimal tapi tidak bisa - terrain alias daerah yang kami lewati sore itu, antara waktu Zuhur dan Ashar, adalah daerah Bumiayu dan kaki Barat Gunung Slamet, berlika-liku kelak-kelok, tidak bisa cepat, tapi aku nikmati saja.

Cuaca saat itu bagus. Tidak hujan, mendung sedang dan tidak panas. Itu cuaca bagus di daerah Gunung. Memang jelas ada kabut, tetapi dari kereta ini aku masih bisa memandang cukup jauh keluar; ya, ini bagian favoritku - setelah selama kurang lebih 4 1/2 jam berjibaku dengan Jalanan Pantai Utara yang datar dan hanya menghadirkan pemandangan statis - sawah-kota-sawah-kota secara bergantian, akhirnya kami naik ke Gunung, pemandangan spektakuler sudah menunggu kami penumpang.

Daerah ini memang indah, saat aku dan keluarga biasa mudik dengan mobil daerah ini memang sangat indah. Apalagi dengan kereta...di kanan-kiri, kami lewati bermacam pemandangan - diawali dengan ladang bawang dan jagung (di daerah Prupuk), semakin naik kami lihat sungai-sungai besar di himpit oleh sawah yang bertingkat, sebuah pemandangan indah dengan para petani masih bertani mencari nafkah, suatu tempat indah untuk menghilang dari peradaban. Kereta terus berjalan dan kami melihat pemandangan yang lain lagi, kini kami ada di atas batuan, tepi tebing, kanan kami jurang namun itu jurang yang indah. Memang kalau di tempat-tempat seperti ini pemandangan indah selalu. Aku mencoba foto tapi, sialnya, ada air banyak di kaca, tapi tidak mau hilang - ternyata itu basah dari luar. SH**, pasti gara2 hujan sebentar di Cirebon tadi. Ke kanan, penumpang lain masih asik saja, sehingga aku tak bisa mendapat view bagus. Ya sudah, nasib.

Meski pemandangan sangat apik, tapi jalan yang kelak-kelok apalagi hawa dingin itu membuat ngantuk. Aku ingin tidur tapi susah, insomnia siang, karena tadi pagi sudah tidur (baca Crashpack Bumi Ngapak I). Tapi ngantuk, mumpungnya, beruntungnya, kami tiba di Bumiayu dan beberapa pedagang asongan masuk lagi. Aku beli segelas Kopi Jahe untuk dinikmati dengan Oreo.

Rasanya WUENAK. Kopi Jahe + Oreo celupan kopi itu ternyata enak. Worthed untuk 10 Ribu. Menghilangkan kantukku seiring kami turun dari daerah kaki Barat Gunung Slamet. Jam 3.15 Kami sampai di Purwokerto, 45 Menit lebih lambat dari dugaanku (biasanya, kereta Sawunggalih sudah sampai Purwokerto jam 2.30an,,,)

Stasiun Purwokerto, salah satu pemberhentian major selain Cirebon di rute KA ini, memang agak lama berhenti, tapi yang enaknya, kali ini para Pedagang masuk dengan lebih beradab, lebih ramah....dan, aksen Ngapak yang aku tunggu itu akhirnya hadir! Ya, kami sudah officially masuk daerah Ngapak. Lokasi Crashpacking ku untuk 5 hari kedepan.

Jajanan yang ditawarkan lebih banyak (ya iya, Purwokerto gitu). Tempe Mendoan, Kripik Melinjo, Kripik Tempe, dan lebih banyak lagi....Lanting (BUKAN Klantink - Lanting: kerupuk kecil bentuk mirip angka 8) pun ada, dalam hati aku tertawa, "Mbak, aku ra usah ditawari Lanting yo. Aku pengen ke Karanganyar, nang kono omahne Lanting, ora larang, eco maning."

Akhirnya kami berangkat lagi, ketinggian semakin menurun, itu aku tahu lewat di stasiun-stasiun kecil yang kulewati, di Purwokerto masih 75 mdpl (meter dari permukaan laut), lama-lama ketinggian menjadi 57 mdpl, 35 mdpl, 19 mdpl, 15 mdpl.... Kami semakin mendekati tujuan: KARANGANYAR.

Kereta pun melalui jalan datar dan lurus terus, kami sudah melengkapi pertukaran dari jalur utara ke jalur selatan asli, dan tak lama kemudian kami melewati terowongan gelap panjang selama 1 menit, yang menandakan sebentar lagi Gombong, dan setelah itu, Karanganyar.

Gombong terlewati, dan akhirnya....Karanganyar. Stasiun kecil yang berada di tengah sawah yang familar itu akhirnya kujejaki. Sesampai aku di gedung utama Stasiun, para tukang ojek, bemot (Becak Motor) dan Becak berebut. "Ndi mas? Karanggayam?" Yang lain terus bertanya-tanya, contohnya salah satu "Loring Pasar mas? Telung'ewu bae. Aku bae mas." aku kali ini menegaskan bahwa rumahku dekat, dekat alun-alun, "Wonten mas, wonten, cedhak iki, alon-alon, dalan bae aku. Wis rapopo." Aku menolak, sampai aku belok ke jalan yang lebih kecil menuju Alun-alun barulah tukang-tukang itu pergi dari mengerumuniku. Aku disambut pemandangan yang langsung menggugah semangatku - bianglala kecil, kereta api kecil model Taman Mini, stan-stan makanan manis, Martabak, Gulali, pedagang baju dan tas dan VCD bajakan.....ah, Pasar Malam! Aku lihat jamku menunjuk jam 4 lebih 10. hampir 1 jam lebih lama dari perkiraanku aku sampai di sini.

Sayangnya aku tidak membawa SLR, kalau aku bawa SLR aku bisa bawa nanti malam untuk foto-foto, karena kamera digital nikon ku tidak cukup...dia tidak bagus jika dibawa malam hari. Jadi aku berhenti dan mengitari sisi Barat alun-alun dulu, memotret semua persiapan keramaian itu selagi Lensa Nikon Coolpix ku masih bisa mentolerir cahaya senja.

Aku lega, jujur, sebuah rasa wah bahwa aku bisa sampai Karanganyar sendiri dengan selamat sentosa....jadi aku kitari alun-alun dan langsung ke Masjid Raya dulu, dan Solat Jama' Qashar sebelum kembali memotret alun-alun dan sekitarnya, dan masjid juga.

15 Menit aku puas dengan foto-foto itu, dan aku berjalan ke arah Pasar kini, ke arah rumah Mbahku. Dan aku pun sampai akhirnya. Awalnya kosong, aku pun heran. Harusnya ada, karena Mas di Jakarta sudah nelfon mereka paginya. Harusnya mereka ada di rumah (Mbah Kung dan Mbah Putri).

Aku pencet bel kecil di luar rumah 2 kali hingga akhirnya Mbah Putri menyambut ku. Aku bertanya di mana Mbah Kung dan dia jelaskan, katanya dia pergi menjemput ku, barusan saja. Ternyata aku sudah balik terlebih dahulu...

Ya, kami tunggu hingga jam 5 sore barulah Mbah Kung kembali dengan sepeda elektrik made in china nya, dia tersenyum melihat ku sudah datang. Kami saling tertawa karena kami menyadari kami masing-masing jalan sendiri, dia padahal awalnya berniat ingin jemput di stasiun tapi aku sudah jalan duluan...

Kami masing-masing berjalan sendiri....

Tapi dengan segelas teh dan gorengan, semua itu pudar, tandas, menjadi tawa lega kekeluargaan di sore hari di Karanganyar itu.




Next Post: Pasar Malam

Thursday, May 5, 2011

Crashpack Bumi Ngapak (I): Suwi ora dalan

Akhirnya, hari ini, tertanggal Bulan 5 Tanggal 5 Tahun 2011.... *gaya baca naskah proklamasi* terputuskan sudah bahwasannya saya akan.....memulai Crashpacking ke kampung bapak dan sekitarnya (tanya kenapa, liat Crashpack Bumi Ngapak: Prologue, ke suatu daerah di Bumi ini yang terkenal dengan kesederhanaannya, dan gaya khas aksennya yang sangat unik, yang sering dibilang sebagai "Ngapak".

Tentunya kalau yang Wong Jowo, tahu, orang yang Ngapak itu dari mana....dari tapal batas antara Jawa Barat sampai daerah Jawa Tengah 'elit' alias Semarang & Jogja....ya, sebuah daerah besar yang mencakup Purwokerto, Banyumas, Kebumen, Banjarnegara, Purworejo....dan sekitarnya, bahkan bagi beberapa orang, Tegal dan Brebes masuk hitungan karena aksennya juga mirip.

Mungkin banyak yang belum tahu, saya terlahir dari keluarga moderat, biasa saja...kampung dari keluarga bapak adalah di daerah Kebumen, tepatnya di Karanganyar (BUKAN Karanganyar yang cedhak Solo, yo). Karanganyar sendiri terletak kira-kira 7-8 kilo sebelum Kebumen dari arah Jakarta. Sebuah kota kecil yang damai dan penuh kesan. Sangat berwarna tapi juga mendamaikan hati di satu sisi.

Lebih tepatnya lagi yang tinggal disana adalah Mbah Kung alias Grandpere/Kakek/Aki/Pops. Dia tinggal di rumah tua di dekat alun-alun kota (atau kalo takon/tanya ke tukang becak, bilang saja 'wetanan gadean' -timur Pegadaian-)

Seperti banyak rumah tua di Jawa, rumah nya sendiri ada di satu kompleks yang terdiri dari sekitar tiga rumah dengan satu pintu masuk yang sama dan satu halaman besar ditengah. Rumah ini cukup sumpek karena banyak barang *jujur* apalagi karena sering menyimpan stok barang, maklum, Mbah masih bertani meskipun sudah berumur.

Aku pergi ke sana untuk jalan-jalan, dengan CRASHPACKING, tidak ada persiapan selain barang bawaan. Itupun cuman baju, uang, dan kamera. Sisanya? Pikirkan di jalan. Akomodasi? Di rumah keluarga, kalau belum sampai, cari Mesjid. Sesederhana itu. Crash-Backpacking kawan, Backpacking yang nyaris tanpa perencanaan *tapi bukan berarti nekat juga*

So hari itu, aku putuskan pergi saja dengan Kereta, biar enak. Langsung aku tancap gas ke Utara, ke Stasiun Senen tentunya. Tempat Kereta Lintas Selatan ada,,,awalnya ada 2 pilihan, Sawunggalih (berangkat jam 8, Bisnis) atau Bogowonto (Berangkat jam 9, ekonomi-AC). Dilihat-lihat, Sawunggalih 95000, Bogowonto 85000. Beda hanya 10 ribu ya, tapi kita lihat, Bogowonto Ekonomi dan berhenti di lebih banyak tempat. Artinya apa? Itu artinya lebih banyak orang, sumpek, dan lebih lama sampai Karanganyar. Sawunggalih mungkin Bisnis yang gak pake AC, tapi stop lebih sedikit daripada Bogowonto.
So, pilihan jatuh pada Sawunggalih.

Saat itu masih jam 6.30, ya, cepet banget, kecepetan mungkin, tapi masalahnya awalnya kami ingin naik Fajar Utama arah Jogja, tapi setelah sedikit tilak-tilik lagi, ternyata Fajar tidak berhenti di Karanganyar, tapi di Kebumen, yang berarti kalau mau ke Karanganyar harus tambah angkot, yang berarti lebih mahal justru.

Akhirnya, Camen lah yang terjadi - ya, Camen, bukan Cacat Mental tapi Cari Makan Enak, di Stasiun Senen. Hari masih awal sekali dan sedikit yang buka, dan tentunya, karena masih sedikit orang, susah tahu mana yang enak berdasarkan panutan pertama para Foodie: Makanan Enak = Rame! Ya, masih sedikit orang, dan susah tahu mana yang rame mana yang enggak.

Setelah sedikit baputar-putar, diputuskanlah, makan di Soto Ayam Lamongan. Ternyata cukup enak, yah bukan enak-enak banget sih, tapi kalau untuk standar Soto Ayam yang baik, enak, dan bersih, dia lulus. Kalau dibilang NEM, emang bukan maksimal sih, tapi biar dapet RSBI atau PTN Unggulan bisa lah.

Jam menunjuk angka 7, aku masuk ke dalam, menunggu 1 1/4 jam bukan hal enak, oleh karena itu tentunya beli koran untuk mengencerkan suasana, sekalian cari batere cadangan dan bekal makan kecil (aka Kudapan) di kereta....

Sing nggilani, Batere Alkaline untuk Kameraku, di Stasiun, LARANG MEN, MUAHAL. 12 Ribu Broo! Biasanya Alfamart 8900 juga dapet. Gila bro. lonjakan 30%. Duh, ini pasti gara-gara harga buka lapaknya juga mahal....yo pihak stasiun netepin harga sewa tempat lapak ya yang murah juga lah.....toh untuk kesejahteraan rakyat bersama ini. Tapi akhirnya aku beli 2 juga, untuk jaga-jaga

Hadirlah jam 8.15, ternyata belum muncul juga kereta Sawunggalih itu. Kutunggu 5 menit kemudian baru datanglah ia. Kereta api bisnis Sawunggalih itu. Bukan masalah, aku ambil tempat dudukku, disebelahku wong Kebumen, bapak-bapak usia 35-an. Aksen Bumennya masih ada meski sudah agak termakan desakan 'meng-Indonesia' dari Jakarta

Ia bilang ia balik ke Kebumen nengok keluarga, kami mengobrol banyak di jalan, mulai dari rumah, keluarga, olahraga, hobi, keadaan di jalan....cukup enak dan friendly orangnya, seperti halnya kebanyakan orang Indonesia lainnya. Aku salut. Dia sudah cukup lama di Jakarta namun masih mempertahankan sisi positif dari ke-'kampung'-annya. Tidak seperti yang aku lihat di beberapa orang yang menjadi terlalu 'kapitalis' dan...egoitik.

Perjalanan awalnya mulus-mulus saja, aku berusaha untuk tertidur tapi tidak bisa, sementara si mas'e sebelah ku ini setelah meninggalkan area Jabotabek sudah mulus tertidur, tapi akhirnya, aku juga tertidur. Tapi hanya sekitar 2 jam. Meskipun rasanya seakan sudah lama sekali. Aku kira waktu pertama kali bangun, "Huf, bentar lagi Cirebon....5 jam, jam 12-1 an, kok gw belum laper ya?". Ta' cek Jam dan ternyata baru jam 10.30. walah. Tapi tak lama kemudian jam 11 kami sampai di Cirebon.

Ku pesan makanan dan minum, komplit, Nasi Rames dan Es Teh, sengaja karena pedagang asongan mulai banyak masuk, 'meneror' dan 'menggoda' iman kami penumpang yang ingin berhemat. Dagangan banyak dijajakan, komplit, makanan? Wah jangan ditanya, Nasi Rames, Pecel, Pop Mi, Mi Jawa, Rujak, ada. Kudapan alias makanan kecil? Apa lagi. Biskuit, Sale Pisang, Wingko Babat, Jenang/Dodol... bahkan yang aneh-aneh pun ada, Kacamata Hitam, Mainan Bayi yang kalo ditarik ujungnya keluar bunyi Tenottenanenanot *Norak bener*....Komplit. Aku pikir lagi. Perkataan orang-orang kalau katanya Kereta itu Pasar Bergerak benar juga.

Aku habiskan makananku untuk Rp 19000. Anehnya bahkan setelah habis makanan dan jarum jam di jam tangan mulai bergeser condong ke arah pukul 12, kereta belum bergerak, malahan, kami 'disalip' kereta lain yang lebih cepat berhenti di Cirebon. WUSH. Kok iso? Ono opo iki? Aku pun tidak tahu. Tapi kami tersendat di Cirebon cukup lama. Yang nggilani nya, pedagang-pedagang itu seakan tidak pernah berhenti, selalu ada menjajakan barang dagangannya. Dan berkali-kali pula aku harus mengatakan berkali-kali kepada para pedagang itu, "wonten mas" atau "wonten mbak" *wonten=kata menolak/nggak*.

Tapi akhirnya iman ku jatuh pula, aku putuskan untuk membeli dari salah satu pedagang itu, segelas Wedang Jahe Anget berharga 3 ribu rupiah. Ya, karena aku masih dilematis mengenai tidur setelah makan atau tidak, karena dalam pikiranku aku paranoid, takut kebablasan sampe final destination kereta ini, alias Kutoarjo, yang notabene 25 Kilometer dari Karanganyar. Yang artinya gonta-ganti angkot beberapa kali. Aku pikirJahe akan membantu, ternyata tidak banyak. Betul, ketika kita minum jahe rasanya tenggorokan lega, gitu juga kuping jadi anget dan dada juga, tapi tidak ngilangin ngantuk, cuman rileks.

Aku coba nikmati lama 'pitstop' di Cirebon dengan Wedang Jahe itu. Setidaknya lebih rileks dan lebih sabaran...hehehe, sambil lalu aku juga mengamati para pedagang, berjibaku mencari setidaknya sekedar simpati dahulu dari para pelanggan, yang kelak bisa dikembangkan untuk menjadi simpati untuk membeli produk *duh bahasanya*.

Para pedagang asongan ini, uniknya, memakai satu rompi yang sama, warna hijau fluorescent seperti di rompi pekerja proyek bangunan (yang bener, bukan yang eseng-esengan) dengan cap "Persatuan Pedagang Asongan Stasiun Cirebon". Salut juga aku, mereka berani membuat semacam Paguyuban. Tapi sampai batas apakah Paguyuban mereka dapat berkarya? Itu yang aku tak tahu, tapi setidaknya, kesan pertama dengan rompi seragam itu memberikan pesan baik.

Akhirnya kami keluar juga dari daerah Cirebon, lanjutkan perjalanan, tapi setelah sudah agak lama. Tak lama kemudian, di Ketanggungan dan Prupuk, kami berhenti lagi, kali ini cukup lama pula. ARGH. Kali ini tidak ada pengalih perhatian, aku gusar, bosan, gak sabaran. Dan mulai ngaco, aku pun mendendangkan dengan Lama (LAgu MAksa buatan sendiri) sekali, berdasar dari lagu 'Suwe ora Jamu'


"Suwe ora dalan
Dalanin sepurne
Sepurne ora dalan
Yo jam piro aku nang Krangnyar...."

(Lama gak jalan, jalanin keretanya, keretanya gak jalan, ya jam berapa aku di Karanganyar)

To be Continued

Crashpack Bumi Ngapak (Asal-Usulnya)

Hari itu adalah satu hari Sabtu, kami (aku dan mas) sedang turun ke lapangan, inspeksi bisnis kos2an kami di Manggarai....dan di hari Sabtu kami jalan PP (sePUANAS PANGGANGAN) itu lah, tercetus satu ide 'mulia'... Ini percakapan kami sepanjang jalan.

*Maaf, tapi ini pembicaraannya gado-gado TRILINGUAL *Indonesia-Inggris-Jowo*, maklumi, jenenge bae keluarga kami.*

Mas: "Aku punya plan sih...mending itu Vaio dikasih mbak Iis saja...mbantu dia skripsi.kamu sekalian jalan-jalan sana gih. Daripada ra ono kerjaan nangkring di depan komputer seharian."
Aku: "On what consideration ko tiba-tiba Vaio mau dikasih?"
M: "Mau beli yang baru."
A: "Yang baru apa, Mas?"
M: "Aku sih tertarik iPad....aku mau beliin buat aku, tapi at the end, podho wae, kamu juga make tha"
A: "Wah....ogah, mending buat upgrade full komputer di rumah tuh duitnya."
M: "Serius? iPad iki."
A: "No....aku wis nyoba dari koncoku, dan, somehow, iPad gak berhasil impress my heart."
M: "Hmmm....Ya sudah"

Ya, dari percakapan waktu itu, si Mas berniat untuk memberikan Laptop Vaio mini kami ke mbak Iis di kampung yang sedang skripsi. Ya, itu memang niat mulia. Lagipula dia juga ingin beli suatu mobile gadget yang baru, dia ingin iPad, tapi aku kurang terkesan....

Masalah dengan rencana itu sederhana, mbak Iis di Jawa, tepatnya di Kutoarjo (Dimanakah itu?? *JengJeng* Cari dhewe nang om GoogleMap). Dan mahal untuk biaya mengantar satu pak laptop + tas laptop + chargernya. Paket sekecil itu? WALAH, Larang men. Nilai Cost for Value nya tidak berbanding kalo kata Akuntan keluarga (aka Ibu).

Dan....tercetuslah rencana agar aku pergi sekalian nganter laptop sekalian jalan-jalan sendiri untuk pertama kali. Sayangnya, mau kapan? Minggu depan Ibu yang lagi kuliah pasca-sarjana di Filipina akan kembali ke Jakarta, rare occasion, saatnya melepas rindu, tapi kalau sekarang cukup mepet dan belum ada perencanaan...2 minggu dari waktu itu? TELAT, lu kira dosen nunggu skripsi lama apa? Ya nggak, Laptop Vaio itu harus ada di tangan mbak Iis ASAP.

Akhirnya aku putuskan berangkat secepatnya saja, aku tidak punya waktu untuk merencanakan, hanya sekilas ingat foto-foto dan tulisan-tulisan tentang tempat favorit di kampung kami (Kebumen dskt.), aku putuskan kalau ingin mencari tempat tambahan ya sudah, seperti kata Perkumpulan Guru Geo Senegara (National Geographic), Let's Get Lost!

Walhasil terjadilah, dari hari Rabu kami tetapkan hari Kamis aku berangkat sendiri. Agak hectic memang malamnya, tapi that's it bro. Itu yang aku kira harus disebut Crashpack, alias crash-backpacking. Backpacking dengan rencana minim seminim-minimnya, pokoknya mengandalkan insting, pengalaman, dan spirit avonturir tinggi. Sesederhana itu.

So with it, began my Crashpack to Bumi Ngapak (Kebumen, Purwokerto dskt)

Wednesday, March 31, 2010

Kenangan Sepak Bola Di Jalan Jambu

Berbicara tentang sepakbola daerah, aku teringat soal kenangan dahulu kala (yah, sebenarnya tidak terlalu lama juga sih, aku sekarang kelas 8 - kenangan ini ketika aku kelas 4-6, jadi 2-4 tahun yang lalu).
Saat itu aku adalah murid pindahan baru, di PEIS - Pakistan Embassy International School (sekolah Internasional punya kedutaan Pakistan), waktu itu bertempat di Jl. Jambu, Gondangdia, Menteng. Sekarang kabar terakhir sekolah ini sudah pindah tempat ke Sunter, berubah nama menjadi AIMS - Alama Iqbal Memorial School (Berusaha meniru sukses Gandhi Memorial School).
Ada apa sodara-sodara? Sepakbola kala di PEIS di Jl. Jambu sangatlah…berbeda, dari sekolah yang lainnya - mungkin saja, kami bisa dikategorikan jauh ketinggalan fasilitas bahkan dibandingkan dengan level SD Negeri khas Jakarta. Well, supaya tidak jauh penasaran - saya mulai saja ceritanya yak.
Awalnya aku adalah murid baru saat kelas 4, pindahan dari SDI Al-Falah yang berada di Kelapa Dua Wetan, Cibubur (kenapa jauh-jauh sekolahnya? Padahal rumahnya di Pejaten). Faktor pemindahanku lumayan banyak - mulai dari distance alias jarak dari rumah, lalu uang sekolah yang makin lama makin mahal (angka figur 7 digit rupiah / bulan, dan terus naik!), dan juga sistem full-day school dimana aku akan menghabiskan waktu di rumah kemungkinan hanya untuk makan dan minum; bayangkan, pulang jam 4 lebih. Dan dengan kemacetan Tol Cibubur sampai ke Ps. Minggu? Dan belum lagi kemacetan sore Ps. Minggu sampai Pejaten? Wah, keok aku lama-lama bisa, tapi sudah cukup terbiasa sih.
Suasana PEIS jauhlah berbeda dengan atmosfir yang ditampakkan oleh Sekolah Internasional pada umumnya - tempat PEIS di Jl. Jambu tak jauh berbeda dengan sebuah villa, dan ya, betul, itu karena memang gedungnya dulunya adalah guesthouse punya Kedutaan AS.
Lalu lapangan untuk bermain bolanya, kalau kata orang luar - ini bukan lapangan. Dan memang aslinya bukan lapangan; aslinya adalah tempat drop para supir jika sedang hujan; dimana dari situ kami (aku dan teman-teman) bisa langsung masuk ke kelas tanpa kehujanan.
Ya, lapangan itu tak lebih sekitar 10-20 m saja, dengan lebar paling besar 15 m, itupun agak zigzag karena ada titik-titik yang ‘terhalang’ oleh rimbun dedaunan, pos satpam depan, dan semacamnya. Seperti halnya tempat drop yang merupakan jalanan, ‘lapangan’ kami ini adalah jalanan pula; batu - conblock. Bayangkan saja kami bermain disana. Apakah lapangan terlalu kecil - jika kami bermain bersama seluruhnya maka, ya, sangat kecil dan akan sempit dan rusuh - tetapi tidak jika hanya digunakan 1-2 kelas (maklum, satu kelas di PEIS saat itu hanya sekitar 10-20 orang saja).
Lalu bagaimana kami bermain? Kami bermain seperti biasa, main saja - untuk batas gol, kami gunakan sepatu atau kursi bekas dari gudang untuk sisi jauh, dan untuk sisi dekat, sudah dibatasi oleh ‘jendolan’ di dinding, sehingga kami bermain saja terus. Kami bermain layaknya anak-anak lain. Tidak dibatasi oleh kewarganegaraan kami yang berbeda-beda; kelasku saja terdiri dari anak-anak dari Indonesia (tentu), Pakistan (pasti), India, Afghanistan, Azerbaijan, Bosnia, Arab, Iran, Vietnam, Myanmar, Korea dan Yaman - sepakbola dan lapangan depan itu menjadi ‘melting pot’ batas-batas sosial kami; disitulah, dengan bermain bola bersama kami belajar mengerti satu sama lain - menjadi suatu tempat sosialisasi; dari sepakbola lah, saya mulai tahu beberapa kata dari bahasa masing-masing, dan mereka perlahan-lahan tahu Bahasa Indonesia pula; sebuah bukti konkrit betapa sepakbola bisa menembus batasan budaya dan dengan sendirinya menjadi medium untuk sosialisasi. Meski terkadang ada perbedaan antara peraturan dan pandangan/POV (Point-of-view) yang membuat kami sedikit berantem, tapi tetap tidak dibawa keluar lapangan; masalah lapangan tetap di lapangan. Dan kami selesaikan dengan membuktikan siapa jawaranya.
Soal fasilitas individu, seperti bola, kaos, atau bahkan sarung tangan - jangan diremehkan, namanya juga anak-anak dari Dubes dan kawan-kawan pasti sudah memiliki; untuk itu kami membawa masing-masing, kadang kami saling bertukar minjam-meminjam. Jika yang satu memiliki sarung tangan, kadang ditukar dengan pelindung lutut, dan semacamnya.
Meskipun dalam keterbatasan lahan, kami tetap bermain dan tetap berprestasi - dalam keterbatasan ini kami memiliki determinasi kuat untuk menunjukkan ke sekolah lain kalau kami tidak kalah dari mereka; oleh karena itu, ‘para dewa’ kami yang terpilih, akan dilatih. Oleh siapa? Waktu itu kami tidak mempunyai guru olahraga formal - lalu siapa guru olahraga kami? Tidak lain tidak bukan adalah seorang pramubakti/OB yang luar biasa, muda dan bersemangat, namanya mas Yogi. Ucapan populernya yang paling saya ingat adalah ketika ada anak yang makan roti, dia pasti selalu mendekat dan berbicara “Bagi roti.” Kasihan.
Yogi ini adalah seorang motivator ulung; perjalanannya sendiri hingga akhirnya terdampar sebagai seorang OB pun tragis - berumah di Parung, dia berangkat pagi-pagi sekali, malah kadang tidak pulang ke anaknya agar tetap berada di Jakarta. Dulu dia pemain yang bagus; masuk Persija U-17, tapi dibuang karena banyaknya kisah tragis mengenai praktik ‘Suap Bakat’ - dia tidak memiliki uang dan harus keluar. sayang sekali, mas Yogi. Dia, lulusan SMA, tidak tahu mau kemana, akhirnya mengabdi disini menjadi seorang…OB.
Tapi semangatnya tidak padam, ketika ‘para dewa’ sepakbola kami memutuskan untuk ‘go global’ alias menjajal kompetisi sepakbola disekolah lain, Yogi pun diangkat menjadi Coach mereka - seringkali mereka berhasil. Yogi pun mendapatkan bonus pula untuk bagiannya, tatkala itu ia tidak meminta roti untuk 2 minggu. Aku bertanya, dia jawab. “Alhamdulillah, kan, kenyang gue.”. Sayangnya ia tidak dijadikan guru Olahraga, ia tetap menjadi OB. Kasihan, sang unspoken hero; pahlawan yang tidak tertuturkan ceritanya. Kasihan sangat.
Hari demi hari berlalu di PEIS, lapangan lama itu kami tetap gunakan - bulan demi bulan, dibawah tangan Yogi dan para senior, kami berhasil membangun sebuah tim futsal yang kokoh, yang namanya disanjung di antara kami, dan cukup menjadi momok untuk beberapa lawan di beberapa kompetisi futsal di area Jakarta Pusat, Timur, dan Utara. Tapi di area Jakarta Selatan kami masih kalah.
Aku sendiri, memang kurang jago bermain bola. Yah, sejago-jagonya aku, aku hanya pernah membuat gol 8x (tidak termasuk Penalti) selama 8 tahun pembelajaran dari SD sampai SMP ini. Sebagus-bagusnya aku aku selalu ditempatkan sebagai Bek Sayap, Wing Back. Atau sebagai gelandang bertahan, Defensive Midfielder. Orang-orang memang cukup takut ketika akan melewati aku - tackle ku keras, dan aku susah untuk dilewati, bahkan jika orang yang melawanku adalah master dribble.
Lapangan itu tetap tidak berubah, fungsinya juga tidak berubah - dari sinilah betapa aku belajar bahwa sepakbola adalah sebuah bahasa universal yang dapat mempersatukan semua bangsa.
Benar-benar sebuah kenangan sepakbola yang tidak bisa dilupakan dan patut untuk dituturkan. Patut untuk dikenang.
M Arkan, 31032010

Thursday, March 4, 2010

Sekadar ingin berbicara kata-kata baik saja....

Sekarang ini sudah marak yang namanya 'seni' yang menjamur di masyarakat. semua memiliki alasan masing-masing,,, Tapi sesungguhnya, menurut saya sendiri yah...
Wah, bingung nih, piye ngomongne. Yo wis todepoin aja dah

Baru saja, ni nih yg terbaik - sebuah kesimpulan yg terbuat dari buah pemikiran sendiri
Dalil Arkan pasal: 'Seniman':
"Esensi seniman ialah dia yang menuangkan pikirannya dalam karya yang mampu menyuarakan seribu kata dan menggugah seribu jiwa."

Singkat, itu doang. Disini saya cuman pingin ngomong sesederhana ini - seni itu adalah karya yang merupakan representasi, alias penuangan pikiran. Dan bukan sekadar itu, tapi seni itu dapat menyuarakan banyak hal, bukan monotonik - bukan searah, tapi banyak cabangnya. Selain itu, yang tentu membuat seni menjadi seni adalah; bagaimana ia menggugah jiwa orang lain, meng-influence nya. Disitulah esensi seni. Mereka, orang2 yang berani menyuarakan pikiran dalam bentuk karya menggugah dan bermakna, merekalah seniman sesungguhnya. Bukan orang yang menggarap seni demi uang, menggarap demi martabat, tapi sekadar untuk menyebarluaskan opini saja. Itulah, menurut saya, esensi seorang seniman...

(Gw ngomong ni masalah, coz ngeliat ud makin banyak aj org2 yg yah...sekadar nyeplos2an di kerja (ok, ini menyinggung soal DPR) dan karya seni (menjamurny band2 ngasal yg jujur membuat gw pemerhati musik jadi resah soal kualiteit).

Pedjaten, Jakarta
04032010

Monday, February 22, 2010

Do'a Hidup

Ahhh...sekarang lagi 'pinned down' sama 'artillery barrage' ny yang namanya virus Salmonella Typhi alias TYPHUS. berdo'a zikir terus pagi malem buat sembuh n minta doa dari orang lain juga. Waktunya mendekat kepada YME (Sayangnya sifat hanya begini kalo lagi sakit atau susah masih sering ada dalem diri gue)

Anyway ngomong2 soal do'a...
Apakah anda sudah punya do'a hidup?

Ya, do'a hidup sendiri itu adalah do'a yang menjadi tegak komitmen tiap hari - do'a yang selalu diucapkan tiap hari yang merupakan landasan buat kehidupan anda selalu. Banyak orang besar yang mempunyai do'a khusus personal mereka, seringkali mereka bagi kepada orang lain tentu selain untuk menebar kebaikan diantara kita semua ialah untuk menambah kebaikan diri mereka - contoh saja Benjamin Franklin, dan Abu Nawas.

Saya sendiri sudah punya do'a kehidupan, rutin diucapkan tiap hari 5x minimal - ini komitmen untuk kehidupan selalu. Untuk apa yang saya perbuat ada landasan pada do'a ini.

Do'anya singkat saja, tidak terlalu banyak, tapi straight to the point:
"Ya Tuhanku janganlah engkau ambil nyawaku sebelum aku melihat dunia yang sesungguhnya - dari pegununganMu hingga dalamnya lautanMu, dari dinginnya kutubMu hingga panasnya gurunMu. Dan dari kekayaan yang Kau pinjamkan hingga kemiskinan yang Kau cobakan."

"Ya Tuhanku janganlah engkau ambil nyawaku sebelum aku sanggup melakukan sesuatu yang berguna di dunia ini - biarkanlah aku menebar kebaikan dan menjadi teladan untuk semua umur dan zaman sebagaimana para wali dan kekasihMu telah lakukan."

 Dari sini saya ambil teguh komitmen untuk selalu menjadi berguna dalam kehidupan. Dan untuk menjelajahi dan meneladani setiap point dari kehidupan sendiri, dimanapun dan kapanpun. Untuk menjadi observan namun tetap aktif bekerja. Itulah.

Sayangnya semua ini tidak bisa dilakukan sekarang karena sakit...oleh karena itu - bersyukurlah orang-orang sehat! Dan jangan lengah sampai sakit seperti saya ya!!!

Setidaknya untuk kebaikan saya saya menulis ini di blog, untuk tetap menebar kebaikan.

Jadi, bagaimana, sudahkah anda memiliki 'do'a kehidupan' anda? Mulailah dari sekarang, sehingga tonggak canangan untuk kehidupan terlihat jelas.


Pejaten, Jakarta, 22022010
*From my sickbed*

Wednesday, February 17, 2010

Puisi Tiga ; Perjalanan Jiwa

 Perjalanan Jiwa

JIWA (TERBANG)
Nun jauh bahkan tak terlihat oleh mata
Lantunan nada merdu terdengar tanpa kata
Namun ketika kutajamkan telinga
Terdengar suara yang membekukan raga

Melayangkan nalar hingga
Jiwa pun terbang lega
Melayang ke langit malam
Dingin nan hitam

Pelahan terbang jiwaku
Menelusup kegelapan kaku
Menembus batas wajar perilaku
Menjadi sebuah fondasi paku

Menuju tempat mulia
Nan firdausi penuh ceria
Dimana waktu berhenti
Dan semua yang lain seakan mati
Seakan dunia hanya milik berdua nanti

Semua seakan aku telah merasakan
Kedamaian hari esok dalam impian
Genggaman tangan erat seorang kekasih idaman
Jiwaku telah terbang dalam cinta penuh keeratan

JIWA (DIATAS AWAN)

Nun jauh bahkan tak terlihat oleh mata
Lantunan nada merdu terdengar tanpa kata
Namun ketika kutajamkan telinga
Terdengar suara yang membekukan raga

Langit telah aku tembus
Jiwaku berjalan melayang terus
Tanpa perasaan beban yang menggerus

Jiwakupun melawan kenyataan sudah
Waktu dibuatnya seakan tak berharga dan rendah
Bahwa penantian satu kehidupan adalah
Kebiasaan belaka dalam proses seribu abad dimana kalah
Adalah jawaban yang tidak akan didapatkan pada akhiran dimana kita berserah

Engkaupun hadir didalam jiwa yang dulunya membatu
Bukan sekadar melengkapi kebersamaan
Namun bahkan menyatu dalam jiwa dan raga satu

Sungguh nalarku telah berhenti
Jiwaku kini telah merasa tinggi lepas dari kotak peti
Yang dulu menguburnya dalam kekejaman kesengsaraan tak berhati

Jiwaku mulai melangkah
Dalam suatu impian yang mungkin kenyataan terarah
Mengenai kesatuanmu denganku disini
Jiwa pun terasa hidup dengan ini
Kesakitan seluruhnya musnah bagai habis perang
Aku pun melihat esok yang lebih terang

Sekalipun bukan kenyataan
Semuanya terasa indah dan bergelimpangan
Cinta dimana-mana
Jiwaku memang menembus awan sana

JIWA (KEMBALI)
Nun jauh bahkan tak terlihat oleh mata
Lantunan nada merdu terdengar tanpa kata
Namun ketika kutajamkan telinga
Terdengar suara yang membekukan raga

Bagaikan sangkakala
Isyarat ini membunyikan pertanda pula
Bahwa telah waktunya kembali pada realita
Tibalah untuk jiwa kembali ke cangkang pelita

Aku kini percaya
Dengan kekuatan dan ketegaran
Yang tersurat dari kelembutan

Sekarang aku mulai berfikir
Tidak secara depresif namun secara partikulir
Secara menyenangkan bukan dengan siksaan berdesir

Mengenai hari-hari kita yang telah lalu
Yang kita lewati hanya dalam rasa biasa dan pahit
Hingga lidahpun menjadi berasa kelu
Aku berfikir untuk mengubahnya tanpa berkelit
Agar hidup terasa sangat nyata
Agar cinta terasa sama rata
Agar semua menjadi kebahagiaan abadi dalam realita

Jiwaku telah kembali lagi
Dan ku akan mulai esok pagi
Dengan semangat baru ini

Tuesday, February 16, 2010

Faults of a Modern Man

Hari ini tidak usah banyak-banyak, cuman ingin memberi tahu saja - 3 kesalahan orang-orang Moderen jaman sekarang.
Ya, kesalahan orang-orang 'berkelas', yang kebanyakan termakan kelicikan dan kegelapan kehidupan urban dan kelam
 Gue pingin bahas, coba kasih nasihat berarti. Woke?

-COBA RENUNGILAH-

1. Jangan hanya mengingat-ingat kesalahan orang
Tapi ingatlah pula....
Kebaikan orang

2. Junjunglah Keadilan
Jangan menilai kesalahan teman sebagai kebenaran
Dan jangan nilailah kebenaran lawan sebagai kesalahan

3. Janganlah menjauhi
Mereka yang dianggap salah
Justru dengan itu ia akan semakin tenggelam
Dan semakin rentan kepada kesalahan kejahatan
Tapi dekatilah mereka dan berikanlah nasihat
Berikanlah dukungan
Jangan sekadar diam tak tahu
Atau malah menjauhi tanpa alasan riil


Well sekian for today
Semoga bermanfaat

Arkan
BlackBox Pejaten
15022010

Monday, February 15, 2010

Vacum Reignis?

Vacuum Reignis? Vacuum of Reign? Vacuum of Power?

Ya, ini ungkapan yang biasa didalam pandangan seorang pengamat sejarah, antrop, maupun sosiopolitik.

Namun dalam kasus ini lagi-lagi dimaksudkan adalah, well well well - betapa lama nya gue udah gak nge blog. Sumpah ternyata terkadang kita adalah makhluk pelupa (apa lagi saya yang diberkati rahmat sebagai orang pelupa - dimana biasanya hanya enjoyment yang ngebikin gue tetep inget ama hal maupun orang).

Seperti halnya Vacuum Reignis, terjadi kekosongan pikiran dan emosi yang tidak sempat ditumpahkan. Wakakakx, gila. Memang terkadang dalam dunia Vacuum Reignis dijadikan kesempatan mengambil alih dasar kekuatan untuk menjadi...satu kans alias kesempatan/oportunitas untuk membuat langkah fondasional ke arah yang lain, contohnya kemerdekaan Indonesia. Adapun yang lainnya, Vacuum Reignis justru diambil alih oleh musuh dan justru menjerumuskan kedalam kesengsaraan lebih dalam - nah ini, contohnya gue.

Yah, terjadi banyak perdebatan mengenai La Princesseses del Mon Coeur (Princesses of My Heart).
PS: (I'll tell u about that later on).

Yah, kali ini pada akhirnya aku tersadarkan untuk menulis kembali - terima kasih kepada blackblue-fusion.blogspot.com yang menyadarkan gue, bersama juga dengan...Mr. Mutant aka KambinGunung, the last idealogical berserker from the land of Karo (Prajurit "Penyerbu Pengamuk" Idealogis terakhir dari tanah karo).

Anyway thank you all, akan gue ceritain lagi tentang all the things about this Vacuum Reignis.

Sunday, August 23, 2009

A very nice story full of message, sebarin yah!

peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun,
hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik
bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.

Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi
waktu denganku."

Peter: "Kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua
saja yang tidak punya pasangan sekarang."
(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)

Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"
Peter: "Eh? permainan apaan?"

Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi
pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"

Peter: "Baiklah.... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan
ke depan."

Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan
jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"

Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy lagi maen
deh. katanya film itu bagus"

Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke
karaoke ya...
ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."

Peter : "Boleh juga..."
(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina pulang
malam harinya)

Hari ke 2:
Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe,
suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati
mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli sebuah
kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat
Peter.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli
sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di
foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai
berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman Peter. Tangan tina terasa sakit karena
tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Peter memijit-mijit tangan Tina
dengan lembut.

Hari ke 25:
Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay . Bulan sudah menampakan diri,
langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka
duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan
suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan
melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:
Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter. Bukan
kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam
hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. Peter terharu
menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang
tahunnya.

Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan
mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah boneka teddy bear
untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.. Tina
penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya
mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang", kemudian peramal itu
meneteskan air mata.

Hari ke 84:
Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi
karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan
berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya
pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan
mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 99:
Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.
Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.


15:20 pm
Tina: "Aku haus.. Istirahat dulu yuk sebentar."
Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol saja. Kamu
mau minum apa?"
Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari
ini. Sebentar ya"
Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta
selalu macet.



15:30 pm
Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah
panik.
Peter : "Ada apa pak?"
Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu
adalah temanmu"
Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.
Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang,tergeletak
tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.


23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih
bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput. Kami menemukan
surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan dia
segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi
terlihat damai.
Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan
erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang sangat
dalam di hatinya.
Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.
Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.


Dear Peter...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak,
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi
sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang
hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh
malam itu di pantai,
Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi
kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur
hidupku. Peter, aku sangat sayang padamu.

23:58
Peter: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat
meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya..
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99
hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!
Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku
kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"

Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...


Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan
pernah kembali lagi.



*Dear Friends* ,
*
Tahukah anda* kalau orang yang kelihatan begitu tegar
hatinya, adalah orang
yang sangat lemah dan butuh pertolongan?
*
Tahukah anda* kalau orang yang menghabiskan waktunya
untuk melindungi
orang lain adalah justru orang yang sangat butuh
seseorang untuk
melindunginya?
*
Tahukah anda* kalau tiga hal yang paling sulit untuk
diungkapkan adalah :
Aku cinta kamu, maaf dan tolong aku
*
Tahukah anda* kalau orang yang suka berpakaian *warna
merah* lebih yakin
kepada dirinya sendiri?
*
Tahukah anda* kalau orang yang suka berpakaian *kuning
* adalah orang yang
menikmati kecantikannya sendiri?
*
Tahukah anda * kalau orang yang suka berpakaian *hitam
*adalah orang yang
ingin tidak diperhatikan dan butuh bantuan dan
pengertian anda?
*
Tahukah anda * kalau anda menolong seseorang,
pertolongan tersebut
dikembalikan dua kali lipat?
*
Tahukah anda* bahwa lebih mudah mengatakan perasaan
anda dalam tulisan
dibandingkan mengatakan kepada seseorang secara
langsung? Tapi tahukah
anda bahwa hal tsb akan lebih bernil ai saat anda
mengatakannya dihadapan
orang tsb?
*
Tahukah anda* kalau anda memohon sesuatu dengan
keyakinan, keinginan anda
tsb pasti dikabulkan?
*
Tahukah anda* bahwa anda bisa mewujudkan impian anda,
spt jatuh cinta,
menjadi kaya, selalu sehat, jika anda memintanya dengan
keyakinan, dan
jika anda benar2 tahu, anda akan terkejut dengan apa
yang bisa anda
lakukan.
*
Tapi jangan percaya semua yang saya katakan* , sebelum
anda mencobanya
sendiri, jika anda tahu seseorang yang benar2 butuh
sesuatu yg saya
sebutkan diatas, dan anda tahu anda bisa menolongnya,
anda akan melihat
bahwa pertolongan tsb akan dikembalikan dua kali lipat.

Hari ini, *bola PERSAHABATAN * ada dilapangan anda,
kirim ini kepada orang
yang benar2 sahabat anda (termasuk saya jika saya juga
sahabat). Juga,
jangan merasa kecewa jika tidak ada seseorang yang
mengirimkannya
kembali kepada anda, anda akan mengetahui bahwa anda
akan tetap menjaga bola untuk
orang lainnya .... karena *lebih baik memberi daripada
menerima *bukan ??? =)

Ok, inilah yang harus anda lakukan . :

Kirim kepada SEMUA TEMAN anda!
Tapi anda harus MELAKUKANNYA dalam satu jam setelah
membuka surat ini!

Sekarang . BUAT 1 PERMINTAAN !!!!

Buat sekarang,

Ini kesempatan terakhir anda!!!
Saya harap anda telah membuat suatu permintaan, Sekarang
kirim surat
ini kepada:
1 orang : permintaan anda akan terwujud dalam satu tahun
3 orang : 6 bulan
5 orang : 3 bulan
6 orang : 1 bulan
7 orang : 2 minggu
8 orang : 1 minggu
9 orang : 5 hari
10 orang : 3 hari
12 orang : 2 hari
15 orang : 1 hari
20 orang : 3 jam

*** Jika anda hapus setelah membaca . anda akan
menghabiskan satu
tahun
tanpa keberuntungan!

Tapi, jika anda kirim kepada (paling tidak) dua teman
... anda akan
memiliki 3 tahun penuh keberuntungan! !!

Saturday, July 25, 2009

UNTITLED

Puyeng gw tau mo ngapain lagi

Monday, June 1, 2009

Viva La Vida - membuka kesadaran....

"I used to rule the world
Seas would rise when I gave the word
Now in the morning I sleep alone
Sweep the streets I used to rule...

I used to roll the dice
Fear the fear in my enemies' eyes...
Listen as the crowd would sing
"Now the old king is dead, long live the king!"

One minute I held the key
Next the walls were closed on me
Then I discover my castles stands
On pillars of stones and pillars of sands

I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror my sword and shield
My missionaries in a foreign field

For some reason I can not explain
Once you know there was never, never an honest word
That was when I ruled the world

It was the wicked and wild wind
Blew down the doors to let me in
Shattered windows and the sound of drums
People could not believe what I'd become

Revolutionaries wait
For my head on a silver plate
Just a puppet on a lonely string
Oh who would ever want to be King?

I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror my sword and shield
My missionaries in a foreign field

For some reason I can not explain
I know Saint Peter won't call my name
Never an honest word
And that was when I ruled the world..."

Oh tentu, lagu tadi sudah tidak asing lagi bagi para pendengar musik di seluruh dunia, lebih khususnya lagi para fans dari grup band Coldplay; Viva La Vida..."Long live life!".... "Hidup kehidupan (kebebasan)" secara harfiah artinya...

Lagu ini sendiri memang sudah cukup lama keluar, hampir 1 tahun sudah sejak rilis (Juli 2008) tapi tetap saja masih bagus untuk didengar. Dan lagi pula ada pesan yang tersimpan dari lagu ini, sangat bagus.... sangat mendalam.

Awalnya sih Coldplay bilang ini lagu untuk menghibur fans sepak bola di Britain negara ny sono yg lagi marah campur sedih gara2 timnas England g berhasil masuk Euro (gara2 Rusia...yey! Hidup Gus Hiddink!!!) 2008 di Austria-Swiss (sayang tim jagoan gw Jerman kalah ama Spanyol di final...huhuhu)...Tapi menurut gw kayaknya itu lebih dari itu doang deh. ADA arti tersirat yang sangat bermakna dalam mengenai lagu ini...

Mari kita bedah lagu ini, sedikit demi sedikit...

Oke kalau kita lihat sekilas seluruh lagu ini, memang agak membingungkan tapi coba lihat bait per bait...2 bait pertama; seperti biasa - pembuka lagu...

"I used to rule the world
Seas would rise when I gave the word
Now in the morning I sleep alone
Sweep the streets I used to rule...

I used to roll the dice
Fear the fear in my enemies' eyes...
Listen as the crowd would sing
"Now the old king is dead, long live the king!"

Oke, mari kita lihat - dari kata dan grammar, kita bisa melihat dua baris pertama dari bait ke satu memakai kata Past Tense; "I used to rule the world, Seas would rise when I gave the word..." kata2 tersebut meng-indikasi bahwa DULU 'saya' adalah seorang penguasa dari sebuah Imperium/kerajaan atau semacamnya...memiliki kekuatan yang besar yang sangat besarnya hingga Coldplay menggunakan metafor di baris kedua "Lautan akan pasang ketika ku beri komando"

Terus ke bawahnya, "Now in the morning I sleep alone, Sweep the streets I used to rule" - "Sekarang pagi hari ku tidur sendiri, Menyapu jalanan yang biasa ku kuasai." Ya, tanda kejatuhan, penyesalan, meratapi masa lalu yang sangat indah. Namun nanti akan terlihat penyesalan akan kejatuhan posisinya dari seorang penguasa menjadi kaum Miskin ini ternyata tidaklah menyakitkan, tapi justru membuka kesadaran hati sendiri...

Di bait kedua penyanyi kembali me-revive ingatan manis masa lalu nya.

I used to roll the dice
Fear the fear in my enemies' eyes...
Listen as the crowd would sing
"Now the old king is dead, long live the king!"

Nah dapat dilihat di sini, sang 'penguasa' ini biasa memegang kendali dari segala, disegani oleh tiap-tiap musuh...Seperti halnya Genghis Khan, Prabu Citragada (Mahabharata), dan beberapa penguasa dunia lainnya...Dan tentu dielu-elukan oleh masyarakatnya sendiri.

Di bait berikutnya terlihatlah masa kejatuhan sang penguasa ini.

One minute I held the key
Next the walls were closed on me
Then I discover my castles stands
On pillars of stones and pillars of sands

Ia hanya sesaat memegang kendali tampuk kepemimpinannya dan ia, seperti di abaikan, di jatuhkan, diruntuhkan kekuasaannya. Namun setelah itu ia melihat kenyataan sebenarnya; rakyat yang dibawah lah yang sebenarnya 'berkuasa' dan seharusnya lebih di pentingkan.
Kata-kata Then I discover my castles stands On pillars of stones and pillars of sands ini tak lain dari metafor lainnya yang menggambarkan rakyat jelata dan terbelakang sebagai 'Pilar batu' dan 'Pilar pasir' yang menjadi fondasi untuk 'berdirinya' 'kastil' alias kekuasaan dan kedigjayaan negara tersebut.

Ke bait selanjutnya ialah bait reffrain, bait reff...seperti biasa reff biasanya menekankan makna isi esensi dari kata tersebut. Coba kita lihat

I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror my sword and shield
My missionaries in a foreign field

For some reason I can not explain
Once you were there there was never, never an honest word
That was when I ruled the world

Nampaknya, ya, nampaknya, reffrain ini sedikit mengambil kutipan dari Alkitab atau semacamnya. Entah perjanjian lama atau baru, gw bukan kristen tapi muslim yg cukup...teologis... apalagi khususnya mengenai agama-agama abrahamik (Judaisme, Kristen, Islam) .

Bait pertama reff adalah penggambaran (visualisasi) kenikmatan masanya sebagai penguasa. Ya seperti itulah.

Bait kedua reff menjelaskan konfesi nya , pengakuan akan kesalahannya dulu yang mungkin telah berbuat lalim kepada pekerjaannya sebagai penguasa pada masa jaya nya dahulu - dan ia masih belum mengetahui kenapa, kenapa ia dahulu sampai berbuat seperti itu; berbuat lalim akan kekuasaannya sendiri. "For some reason I can't explain. Once you were there there was never, never an honest word. But that was when I ruled the world." secara harfiah sendiri mengandung makna "Aku tak bisa menjelaskan. Saat kau disana (di takhta) tak kan ada, tak kan ada kata jujur. Tapi itu ketika aku menguasai dunia." Cukup jelas.

Baik, bait selanjutnya - Verse 2.

It was the wicked and wild wind
Blew down the doors to let me in
Shattered windows and the sound of drums
People could not believe what I'd become

Revolutionaries wait
For my head on a silver plate
Just a puppet on a lonely string
Oh who would ever want to be King?

bait pertama menjelaskan bagaimana penguasa ini merasakan dunia diluar yang sesungguhnya; It was wicked and wild wind - angin ganas... Dan kalimat terakhir menegaskan - meski ia telah lalim dan telah lengser, tetap saja oleh warganya ia dianggap seorang yang dulu nya hebat, sehingga mengejutkan warga nya. "People couldn't believe what I've become" "Orang tak percaya bagaimana diriku ini sekarang."

Bait kedua juga menceritakan keganasan dunia sesungguhnya setelah di pahami oleh sang penguasa ini. Dua baris pertama menegaskan juga, meski ia telah lengser tetap saja ada luka tentang kelaliman kekuasaannya dahulu. Orang-orang revolusionator menunggu untuk kepalanya. Menunggu untuk menuntaskan nyawanya untuk membawa hawa revolusi. Namun ia pun membalas - diriku hanya seorang yang sendiri dan bukan aku yang menghendaki posisi Raja itu; ia membalas bukan dia yang menginginkannya. Tapi mereka sendiri; rakyat; sebuah usaha pertahanan diri sendiri...

Setelah itu, reff lagi, penekanan lagi...

Namun bait kedua reff kali ini agak berubah...

For some reason I can not explain
I know Saint Peter won't call my name
Never an honest word
And that was when I ruled the world..."

Bait ini menunjukkan penyesalannya kepada dirinya. Ia mengakui kelalimannya dan penyalahgunaan kekuasannya. Ia bahkan menyesalinya. Bahkan ia pun berkata "Santo Petrus tak'kan memanggil namaku...", Oke iya hal ini berbau Katolik tapi tak apa, intinya adalah ia bahkan saking menyesalnya sebelum kematiannya sudah mengira bahwa masuk surga pun tidak akan pernah. Bagaimana tidak, aku telah menyalahkan tanggungjawabku sebagai raja dulu. Fikir sang penguasa ini tentu.

Intinya tak lain adalah, jangan lalim para penguasa - jangan lalim dalam kekuasaan dan jabatan posisi tinggi...jangan lupa untuk melihat kebawah, kepada mereka yang lebih kecil...hidup mereka lebih berat. Jika terlambat menyadari maka sesal akan merenggut rasa bahagia di jiwa nanti untuk waktu yang lebih lama dan rasa yang lebih sakit...

Akhir kata, jangan kita berhenti untuk meng-introspeksi diri kita...Diri kita penuh kesalahan, kita adalah manusia - jangan lupakan itu. Karena jika kita lupa untuk meng-introspeksi diri sebelum orang lain menilai kita, sesal akan menghancurkan kita karena kesalahan kita yang sebelum-sebelumnya...